Di tengah dinamika dunia kerja yang bergerak semakin cepat, perempuan kini semakin selektif dalam memilih tempat untuk bertumbuh. Bukan hanya soal peluang atau jenjang karier, tetapi juga tentang bagaimana sebuah lingkungan kerja mampu menghadirkan rasa aman secara menyeluruh.

Rasa aman di tempat kerja bukan sekadar hadir lewat aturan tertulis, melainkan tercermin dari budaya keseharian yang dirasakan langsung oleh para pekerja. Mulai dari sikap saling menghargai, komunikasi yang profesional, hingga lingkungan yang mendukung setiap individu untuk merasa nyaman menjadi dirinya sendiri.

Bagi banyak perempuan, lingkungan kerja yang sehat adalah ruang di mana mereka dapat menyampaikan ide, berinteraksi, dan berkontribusi tanpa rasa khawatir terhadap penilaian yang tidak adil. Ketika rasa aman tercipta, fokus pun kembali pada hal yang paling penting: berkarya, berkembang, dan memberikan kontribusi terbaik.

Hal ini juga semakin dirasakan oleh generasi muda yang kini tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga lingkungan yang suportif secara emosional. Profesionalisme pun dinilai perlu berjalan beriringan dengan budaya saling menghargai.

Head of Marketing Semen Merah Putih, Nyiayu Chairunnikma, menilai, rasa aman di tempat kerja menjadi hal yang sangat penting, terutama di industri infrastruktur yang selama ini identik sebagai ruang yang didominasi laki-laki.

“Tempat kerja adalah rumah kedua bagi banyak dari kita, tempat untuk belajar dan berkembang. Karena itu, penting bagi lingkungan kerja untuk menghadirkan rasa aman dan nyaman seperti di rumah. Dengan begitu, setiap individu bisa bekerja lebih baik dan berkembang secara maksimal,” papar Nyiayu, dikutip Rabu (13/5/2026).

Lebih jauh, Nyiayu juga menyoroti tantangan yang masih dirasakan perempuan ketika bekerja di sektor yang kerap dianggap sebagai “dunia laki-laki”.

“Apalagi bekerja di industri yang masih sering dianggap sebagai ‘dunia laki-laki’ membuat saya melihat langsung bagaimana ruang yang benar-benar aman dan suportif penting, apalagi bagi perempuan,” lanjutnya.

Menurutnya, ketika lingkungan kerja mampu menghadirkan rasa aman, perempuan tidak hanya merasa lebih tenang, tetapi juga lebih percaya diri dalam menyampaikan perspektif dan kontribusinya.

Kondisi tersebut, kata dia, pada akhirnya turut meningkatkan kualitas kolaborasi dan kinerja secara keseluruhan.

Baca Juga: Lebih Dekat dengan Pia Alisjahbana, Perempuan Inspiratif di Balik Lahirnya Jurnalisme Mode