Mendiang Ciputra mengakui krisis moneter 1997-1998 menjadi salah satu fase terburuknya dalam bisnis. Ciputra babak belur karena gejolak ekonomi yang terjadi.

Bisnis properti yang selama ini menjadi ladang penghasilnya mendadak sepi, penjualanya turun drastis, aset-aset perumahan yang telah dibangun tak diminati lagi. Di sisi lain Ciputra juga harus menanggung beban hutang yang menggunung imbas krisis itu.

Baca Juga: Penampilan Cinderella di Ciputra Artpreneur: Kolabarasi Ballet Manila dan Ètoile Dance Center

Secara kasat mata, Ciputra seolah sedang menuju ambang kebangkrutan, hanya menunggu waktu untuk ditenggelamkan badai krisis yang ganas itu.  Ini menjadi fase paling berat sepanjang perjalanan bisnis Ciputra. 

“Terus terang pada waktu krisis tahun 1997-1998, saya telah mendirikan tiga grup perusahaan, Jaya Group, Metropolitan  dan Ciputra Group. Tiba-tiba datang krisis yang luar biasa di Indonesia. Kita seolah-olah sudah bakrut, hutang kita menumpuk, aset kita, rumah-rumah yang kita bangun tidak bisa jual dan tidak punya harga,” kata Ciputra dalam sebuah kesempatan dilansir Olenka.id Senin (19/1/2026). 

Dihantam krisis yang datang tanpa aba-aba membuat Ciputra kalang kabut, ia memang setengah putus asa, tetapi tidak sepenuhnya menyerah kendati kerajaan bisnis yang baru mulai dirintis kini dihantui keruntuhan yang jaraknya hanya beberapa jengkal saja. 

“Seolah-olah saya merasa bahwa Indonesia tidak punya hari depan. Waktu itu datang tiba-tiba krisis tersebut,” ujarnya. 

Ketimbang pasrah dan menyaksikan bisnisnya runtuh di depan mukanya Ciputra akhirnya mulai perlahan mencari jalan keluar,  bahkan sempat terlintas di kepalanya untuk mencari  negara lain sebagai tempat bisnisnya. 

Ciputra kemudian melakukan studi di beberapa negara, Tiongkok, Amerika Serikat dan Australia. Dari studi itu ia mengambil kesimpulan, bahwa Indonesia tetap menjadi satu-satunya negara yang masih punya potensi bisnis yang sangat besar. 

“Tapi kemudian saya mengambil kesimpulan.

Tempat yang paling baik adalah Indonesia untuk saya bekerja terus,” 

Ciputra urung pindah ke luar negeri. Krisis yang menjadi batu sandungan itu adalah pelajaran berharga untuk masa depan bisnisnya. Dari krisis itu pula Ciputra menemukan skema baru mengenai manajemen risiko. Kini ia lebih bijaksana dalam mengambil keputusan bisnis untuk meminimalkan kesalahan. 

“Saya kembali bekerja keras di Indonesia dan mempelajari, mengambil pengalaman yang lalu, apa yang salah. Nah ternyata kesalahan saya, saya bisa hitung 1, 2, 3, 4, 5," ucapnya.

Baca Juga: Warisan Nilai Hidup Ciputra untuk Anak, Cucu, dan Generasi Penerus

"Nah saya tidak mau mengulangi 5 kesalahan tersebut. Maka saya bangkit dan ternyata kami berhasil seperti sekarang ini. Dan bisa membangun gedung-gedung  bakal lebih hebat dari sebelum krisis yang lalu,” tuntasnya.