Pegiat media sosial sekaligus loyalis PDI-Perjuangan Chusnul Chotimah menyentil keras pernyataan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) yang disampaikan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul ke-8 Al-Maghfurlah KH Musyafa Ali di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026).

Dimana dalam pernyataanya Jokowi memberi berbagai nasehat soal  kekuasaan dengan baik, salah satu poin yang ia sorot adalah kebijaksanaan menggunakan kekuasaan, jangan sampai kekuasaan hanya menjadi kendaraan untuk mendahului orang lain. 

Baca Juga: Kerusuhan Demo 27 Agustus, Habib Rizieq Tantang Prabowo Bubarkan Ormas Preman: Tangkap Kiai Cepat, Sama Preman Takut!

Menurut Chusnul Chotimah, pernyataan itu membuktikan bahwa Jokowi adalah orang paling munafik, ia berbicara kebijaksanaan menggunakan kekuasaan setelah dirinya menjadi salah satu pelaku penyalahgunaan kekuasaan itu sendiri.  

"Munafik kamu pak, sen kanan belok kiri. Mau muntah rasanya dengar orang ini bicara," kata Chusnul Chotimah dilansir Olenka.id Senin (31/8/2026).

Chusnul Chotimah lantas mengungkit kembali pencalonan Gibran Rakabuming Raka menjadi calon wakil presiden pada Pilpres 2024 lalu, dia mengatakan dalam pencalonan putranya itu Jokowi yang ketika itu masih menjadi presiden justru berkali-kali menyalahgunakan kekuasaannya, puncaknya adalah  perubahan usia calon presiden dan calon wakil presiden.  

"Itu Gibran nggak punya kemampuan malah mendahului orang lain, demi dia aturan umur diubah, kamu malah mendukung," ujarnya. 

"Dia lupa saat dia berkuasa, bagaimana kekuasaan dia pakai untuk keuntungan dirinya dan keluarganya. Mulyono sedang menasehati Jokowi. Orang haus kekuasaan, tukang bohong dan penghianat nggak pernah ngaca," tambahnya.

Sebelumnya, Jokowi menyampaikan pesan mengenai sikap hidup saat menghadiri kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul ke-8 Al-Maghfurlah KH Musyafa Ali di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen.

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi menggunakan filosofi Jawa untuk menggambarkan pentingnya tidak selalu menunjukkan kelebihan dan mendahului orang lain.

"Lamun siro banter, ojo disik-disiki. Nek kowe iso cepet, ojo suka mendahului. Kadang-kadang seperti itu menyakitkan yang didahului. Sing didisiki iku yo ora seneng," ucap Jokowi.

Baca Juga: Profil dan Jejak Karier Yovie Widianto: Musisi Senior, Stafsus Presiden, hingga Komisaris BUMN

Jokowi juga mengingatkan bahwa kemampuan atau kelebihan tidak harus selalu diperlihatkan kepada orang lain.

"Ngopo sih kita itu ngerti kalau kita banter tapi kelihatan alon yo ora opo-opo. Tidak usah diperlihatkan, jangan," jelasnya.