Ketua Dewan Pertimbangan Partai Ummat, Amien Rais mengatakan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) adalah politisi yang tetap haus dan lapar atas kekuasaan, dia menilai presiden dua periode itu sesungguh tak rela melepas kekuasaan yang telah direngkuh selama satu dekade.

Untuk itu ia kembali mencari cara untuk merebut kembali kekuasaan tersebut bahkan lewat intrik-intrik politik berbahaya yang mengancam kemaslahatan rakyat. 

Baca Juga: Pendukung Jokowi Ngarep Prabowo Kembali Gandeng Gibran di 2029, Amien Rais Nyeletuk: Mustahil Fufufafa Diajak Lagi!

"Saya ingin mengingatkan Mas Jokowi tentang bahaya politik dari move-move politiknya yang berbahaya. Jokowi adalah sosok politik yang haus dan lapar kekuasaan tanpa batas," kata Amin dalam keterangannya dilansir Olenka.id Jumat (11/9/2026). 

“Dalam konteks ini, Jokowi saya yakin sosok yang tidak akan pernah berhenti mengejar kekuasaan kecuali kalau nanti sudah makan tanah," tambahnya. 

Jokowi lanjut Amien selalu ingin menaruh seluruh keluarganya di posisi strategis nasional, berbagai upaya dilakukan untuk melenggangkan kekuasaan dan mengontrol negara ini, salah satu upaya yang sedang dilakukan adalah mendorong putranya Gibran Rakabuming Raka menjadi Presiden RI berikutnya menggantikan posisi Prabowo. 

"Nah Jokowi memegang teguh ilmu pokoknya, pokoknya saya harus tetap bisa mengendalikan Indonesia, pokoknya anak saya harus berada di puncak piramid kekuasaan, pokoknya dengan segala cara halal atau haram tujuan politik saya harus tercapai," tutur Amien.

Berbagai upaya Jokowi untuk tetap berkuasa kata Amien terkonfirmasi dari pernyataan Ketua Umum Sukarelawan Pro Jokowi (Projo) Budi Arie Setiadi beberapa waktu lalu yang  menyinggung percepatan Pemilu 2029 dan pergantian Presiden Prabowo sebelum pemilu. 

Menurut tokoh reformasi itu, Pernyataan Budi  Arie jelas upaya maka yang sedang  direncanakan kubu Jokowi dan itu sangat berbahaya jika dibiarkan. 

“Nah omongan Budi Arie yang tidak begitu cerdas didampingi Jokowi bahwa kalau bisa pilpres dipercepat tidak usah menunggu tahun 2029, saya rasa itu sangat mengerikan," katanya.

"Sehari kemudian penjahat judol ini minta maaf tetapi tidak ada gunanya. Karena masyarakat sudah menyimpulkan ada makar besar yang sudah disiapkan Jokowi," imbuhnya. 

Amien kemudian memperingatkan agar dinamika politik tidak berkembang menjadi konflik yang sulit dikendalikan.

Menurutnya, kondisi dapat menjadi semakin rumit apabila terjadi rekayasa politik dan eskalasi di tengah masyarakat.

"Tetapi kalau kondisi dan situasinya makin geruh akibat political engineering para pendukung Jokowi yang kebelet ingin berkuasa kembali, perkembangan di lapangan bisa lepas kendali," katanya. 

Amien lantas mengaitkannya dengan sejarah gerakan massa yang berujung pada perubahan politik pada 1998.

Baca Juga: Amien Serang Prabowo dan Mayor Teddy, Menteri Pigai: Ini Bukan Kebebasan Berpendapat, Ini Pelanggaran HAM

"Bisa saja terjadi kembali semacam people power yang memuncak pada 21 Mei tahun 1998. Kalau sampai ini terjadi lagi, mungkin akan memakan korban jiwa yang jauh lebih besar," ujar Amien.