Kehadiran PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) sebagai penjamin kredit bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kota Semarang, memudahkan para pelaku usaha memperoleh akses pembiayaan untuk mengembangkan bisnisnya.

Melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) ini, salah satu pengusaha Wingko Babat, Slamet Riyanto (43) turut serta memanfaatkan fasilitas tersebut.

Bersama sang istri, Slamet telah menjalankan bisnis Wingko Babat rumahan ini sejak tahun 2010. Bahkan, dirinya menceritakan memulai usahanya dengan modal Rp5 juta untuk membeli bahan baku Wingko, yakni kelapa dan tepung ketan.

Baca Juga: Catat Pertumbuhan Solid, Jaminan KUR Askrindo Tembus Rp810 Triliun

Berkat kegigihannya, kini Wingko Babat miliknya dapat memenuhi kebutuhan kelapa parut sendiri danĀ  sukses memproduksi 15 hingga 20 loyang Wingko per hari dengan harga jual Rp30.000 per loyang.

"Saat itu, kebutuhan kelapa parut masih dibeli dari pasar karena belum memiliki mesin sendiri. Sekarang sudah punya mesin parut sendiri dan dapat memproduksi puluhan loyang Wingko setiap harinya" katanya kepada wartawan, Kamis (7/5/2026) kemarin.

Baca Juga: Perluas Jangkauan Literasi Anak Usia Dini, Mobil Pintar Askrindo Resmi Hadir di Soppeng

Dengan perkembangan usahanya, nilai pembiayaan Slamet turut terkerek hingga Rp50 juta dengan tenor tiga tahun. "Awal pinjaman pertama lewat KUR sebesar Rp5 juta, kini menjadi Rp50 juta." katanya.

Menurutnya, dukungan tersebut membantu untuk menjaga kelangsungan usahanya sekaligus dapat menambah peralatan produksi.

"Yang penting mampu untuk bayar bulanannya," tambah dia.

Tak hanya Slamat, Seno Sudono (74) yang merupakan pengrajin kayu turut memanfaatkan pembiayaan perbankan yang dijamin asuransi kredit untuk menopang usahanya.

Sebelum menjajaki usaha kayu, Seno yang merupakan mantan atlet balap sepeda nasional ini memulai usaha kayunya pada awal 1980-an dengan membuat perabot sederhana, hingga kini usaha yang ia rintis terus berkembang.

"Saat ini kami menerima pengerjaan kusen, pintu rumah, kitchen set, hingga interior masjid. Salah satunya, kusen dan lantai untuk Masjid Agung Semarang." ujarnya.

Tak hanya dalam negeri, pasar luar negeri pun melirik karya dari Seno, salah satunya, Taiwan dan Australia dengan nilai omzet puluhan juta rupiah per bulannya.

Untuk menunjang modal kerja, Seno beberapa kali mengambil pinjaman KUR dari perbankan, sekitar Rp150 juta.

Menurutnya, keberadaan Askrindo membantu pelaku usaha memperoleh akses pembiayaan yang lebih mudah dari perbankan. "Kalau misalnya saya nggak bisa bayar, Askrindo yang di belakangnya," tambahnya lagi.

Namun, meski demikian, ia menegaskan para pelaku usaha tetap mempunyai kewajiban untuk membayar cicilan tepat waktu. "Dukungan pembiayaan menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan usaha," tutupnya.