Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Abdul Kadir Karding mengajak para finalis Miss Grand Indonesia 2025 untuk berperan aktif dalam mengedukasi masyarakat agar berangkat kerja ke luar negeri secara prosedural atau legal.

Menteri Karding mengungkapkan, sekitar 80 persen pekerja migran Indonesia bekerja di sektor domestik dengan mayoritas berpendidikan SD hingga SMA. Sebanyak 67,4 persen di antaranya adalah perempuan yang rentan terhadap eksploitasi dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

Baca Juga: Kementerian PPMI/BP2MI Buka Peluang Perluas Kerjasama dengan Jepang

“Banyak pekerja migran kita yang tidak terdata. Tanpa data, negara kesulitan memberi perlindungan ketika terjadi masalah di luar negeri,” kata Karding di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (29/8/2025).

Dia menegaskan, perlunya sosialisasi masif di daerah-daerah kantong pekerja migran, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, NTB, Lampung, Sumatera Utara, dan NTT. 

Oleh karena itu, Menteri Karding berharap para finalis Miss Grand Indonesia dapat membantu menyebarkan pesan migrasi aman kepada generasi muda dan masyarakat luas.

“Gunakan panggung yang ada untuk hal-hal penting bagi kemanusiaan. Bantu sosialisasi agar calon pekerja migran tahu cara berangkat secara legal dan terhindar dari calo maupun agen palsu,” kata Menteri Karding.

Menteri Karding juga menjelaskan langkah KemenP2MI dalam memperketat pengawasan, mulai dari pembekuan perusahaan pelanggar, penindakan pidana terhadap calo, pembentukan tim reaksi cepat, hingga pemantauan iklan rekrutmen ilegal melalui Direktorat Siber KemenP2MI.

Baca Juga: Mengenal Affan Kurniawan, Ojol Tulang Punggung Keluarga yang Tewas Dilindas Kendaraan Taktis Brimob

“Oleh karena itu kita butuh sosialisasi masif. Lewat banyak instrumen media sosial, media mainstream, dan seterusnya. Itu kita perlu itu,” ujar dia.