Pendidikan arsitektur yang ia tempuh awalnya mengarahkannya pada jalur profesional yang umum, yakni menjadi arsitek pencari proyek.
Namun, di titik itulah ia menyadari satu hal penting bahwasanya ketergantungan pada orang lain bukan jalan yang ia inginkan.
“Waktu saya di sekolah, saya diajar menjadi arsitek. Setelah tamat saya jadi arsitek. Arsitek mencari pekerjaan. Saya tergantung dari orang lain,” tuturnya jujur.
Meski mungkin saja ia bisa mendapatkan proyek, Ciputra menolak jalan pintas berupa mengemis atau menunggu belas kasih.
“Ya mungkin saya punya proyek, tapi saya tidak mengemis minta proyek,” tegasnya.
Ia pun memilih jalan yang lebih sulit, tetapi lebih bermartabat, yakni membangun kemampuan sendiri dan menciptakan peluang sendiri.
“Tidak, saya menciptakan kemampuan saya sendiri,” tukasnya.
Menurutnya, dari situlah lahir keputusan besar yang mengubah hidupnya, ia tidak hanya menjadi arsitek, tetapi menjadi pengembang (developer).
Ya, Ciputra menciptakan proyek, bukan menunggu proyek. Ia menjadi pencipta lapangan kerja, bukan pencari kerja.
“Maka saya jadi developer, saya mulai proyek tersebut. Nah, kemudian saya cari arsitek untuk melaksanakan,” tandas Ciputra.
Baca Juga: Kisah Pertarungan Hidup Ciputra: Keringat, Air Mata, dan Nyawa di Balik Proyek Senen