Menurutnya, keberpihakan kepada kelompok tersebut juga merupakan amanat konstitusi. Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

Saifullah mengakui selama puluhan tahun perhatian terhadap kelompok masyarakat paling bawah belum sepenuhnya dilakukan secara optimal. Karena itu, pemerintah menghadirkan Sekolah Rakyat sebagai salah satu instrumen untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin.

“Maka, Bapak Presiden menghadirkan Sekolah Rakyat untuk membuka akses seluas-luasnya bagi keluarga-keluarga yang mungkin putra-putrinya putus sekolah, tidak sekolah, atau belum sekolah,” katanya.

Ia menyebut data sementara Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan masih terdapat lebih dari 4 juta anak usia sekolah yang tidak sekolah, putus sekolah, maupun belum pernah bersekolah.

Saifullah memberikan contoh Al Jabar, remaja berusia 16 tahun yang tinggal di Duren Sawit, Jakarta Timur, namun hingga kini belum pernah mengenyam pendidikan formal. Kondisi serupa juga dialami adiknya, Al Fatih, yang berusia 12 tahun.

“Potret-potret seperti inilah yang mendapatkan perhatian khusus dari Bapak Presiden,” ujarnya.

Dalam pelaksanaan awal Sekolah Rakyat, Kementerian Sosial juga memperoleh dukungan dari berbagai pihak, termasuk Prof. Moh. Nuh dan Prof. Ary Ginanjar Agustian. Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah pemberian fasilitas tes DNA Talent secara cuma-cuma bagi siswa Sekolah Rakyat.

Saifullah menyampaikan apresiasi atas kontribusi tersebut. Menurutnya, pemetaan potensi dan kemampuan anak sejak dini dapat membantu pemerintah dan pendidik mengarahkan mereka sesuai bakat dan kapasitas masing-masing.

“Semua akan mengikuti tes DNA Talent yang diberikan secara cuma-cuma oleh Pak Ary Ginanjar. Untuk itu, kita ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya,” kata Saifullah.

Salah satu penerima manfaat Sekolah Rakyat sekaligus penerima beasiswa Universitas Ary Ginanjar adalah Putri. Ia berasal dari keluarga sederhana dengan ayah yang bekerja sebagai penjaga makam.

Putri sebelumnya sempat berhenti sekolah dari SMK Negeri 6 Pontianak dan tidak melanjutkan pendidikan karena ingin membantu perekonomian keluarganya.

“Dulu saya putus sekolah dari SMK 6 Negeri Pontianak, terus saya nganggur. Waktu itu beberapa bulan kemudian saya ditawarkan ke Sekolah Rakyat. Awalnya saya menolak karena orang tua saya kan tidak bekerja, jadi saya ingin membantu orang tua untuk ekonominya di rumah,” ujar Putri.

Namun, dorongan sang ibu membuat Putri akhirnya memilih kembali menempuh pendidikan melalui Sekolah Rakyat.

“Mama saya bilang, ‘Kamu ke Sekolah Rakyat aja.’ Katanya supaya saya punya masa depan bahagia, senang, dan bisa membahagiakan orang tua,” tuturnya.

Selama mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat, Putri mengaku memperoleh banyak pengalaman sekaligus mendapatkan fasilitas pendidikan dan kebutuhan sehari-hari yang sepenuhnya ditanggung.

“Fasilitas semuanya difasilitasi, seperti makan, terus semuanya. Pokoknya Sekolah Rakyat the best,” katanya.

Saifullah menegaskan pemerintah tidak ingin Sekolah Rakyat hanya menjadi tempat memberikan pendidikan dasar kepada anak-anak dari keluarga miskin. Lebih jauh, sekolah tersebut diarahkan untuk menjadi instrumen memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi.

“Dan tentu ini akan terus kita kembangkan, karena lulusan Sekolah Rakyat, menurut arahan Bapak Presiden, pilihannya hanya dua: menjadi pekerja terampil baik di dalam maupun di luar negeri, yang kedua melanjutkan ke tingkat pendidikan tinggi,” jelasnya.

Ia mengatakan pendidikan di Sekolah Rakyat akan terus diperkuat melalui bimbingan dan pelatihan keterampilan agar para lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Pemerintah juga akan memberikan penguatan kemampuan bahasa bagi siswa yang memiliki keinginan menjadi pekerja terampil di luar negeri.

“Ini bagian dari upaya untuk memutus mata rantai kemiskinan, di mana lulusan Sekolah Rakyat harus menjadi agen perubahan. Itu kata kuncinya,” tegas Saifullah.

Ia berharap lulusan Sekolah Rakyat tidak hanya mampu mengubah masa depan dirinya sendiri, tetapi juga membawa perubahan bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.

“Mereka bisa menjadi agen perubahan bagi dirinya, bagi keluarga, dan lingkungannya. Bisa jadi pengusaha, bisa memiliki keterampilan untuk bekerja di bidang-bidang tertentu, melalui bimbingan dan pelatihan,” pungkasnya.