Di tengah makin canggihnya kecerdasan buatan (AI) dan menjamurnya tools desain otomatis, kekhawatiran soal nasib para kreator visual makin sering terdengar. Banyak yang bertanya-tanya, apakah peran desainer akan segera tergantikan oleh mesin?
Jawaban atas keraguan itu terasa jelas saat melangkah ke pameran tahunan “Crossroad” bertajuk Meeting Point yang digelar mahasiswa Visual Communication Design (VCD) Sampoerna University di Jakarta. Bukannya cemas, para talenta muda ini justru membuktikan bahwa sehebat apa pun teknologi, kemudi utama tetap ada di tangan manusia.
Dosen VCD Sampoerna University, Arum Githa Putri, menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran di VCD memang sengaja dirancang untuk menjawab tantangan dan kebutuhan industri kreatif saat ini.
Menurutnya, di era kecanggihan teknologi, mahasiswa dituntut untuk tidak sekadar jago bikin visual, melainkan harus mengasah pemikiran kritis dan solutif.
“Seiring perkembangan AI, kami juga mengajarkan mahasiswa untuk memahami pemanfaatan teknologi secara tepat, karena AI tetap membutuhkan arahan manusia. Oleh karena itu, kemampuan seperti data thinking, data marketing, dan kolaborasi menjadi penting untuk terus diasah,” jelas Githa kepada Olenka pada Rabu (26/08/2026).
Pengalaman mengasah proses berpikir dan eksplorasi karya itu dirasakan betul oleh para alumni yang kini sudah berkarir di industri.
Illustrator/Graphic Designer PT Global Urban Esensial, Karunia Dwi Novita, mengatakan bahwa ragam proyek selama masa kuliah sangat membantu meningkatkan keterampilan teknis sekaligus kemampuan menyampaikan gagasan.
“Selama kuliah di VCD, saya mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan berbagai keterampilan, mulai dari desain hingga 3D. Berbagai proyek selama perkuliahan juga memperluas kemampuan saya, termasuk dalam storytelling, yang menjadi salah satu pengalaman paling berkesan,” kata Karunia.
Baca Juga: Segera Berakhir! Kompetisi Desain Motor Listrik dari Polytron
Selain kedalaman gagasan dan kemampuan bercerita, tantangan nyata di dunia kerja juga menuntut ketahanan mental serta keluwesanPolytro
Dalam kesempatan yang sama, Motion Designer Sterly, Wahyu Mahendra, menambahkan bahwa kemampuan beradaptasi dan mengelola kerja sama tim menjadi kunci utama untuk bertahan di lingkungan kerja modern yang dinamis.
“Menurut saya, selain skill yang didapat saat kuliah, salah satu soft skill yang paling penting adalah adaptabilitas. Selain mampu beradaptasi dengan tim, klien, maupun situasi kerja yang berbeda, kemampuan time management dan komunikasi juga sangat penting, terutama dalam lingkungan kerja yang dinamis dan remote,” ungkap Wahyu.

Pada akhirnya, riuk dinamika industri kreatif dan hadirnya teknologi baru bukanlah akhir dari peran desainer. Justru di titik persimpangan inilah, seperti nama pameran mereka “Crossroad” talenta muda diajak untuk makin mengasah rasa peka, empati, dan kemampuan beradaptasi.
Karena teknologi sejatinya hanyalah perkakas, sementara nyawa dari setiap karya tetap datang dari hati dan pikiran manusianya.