Growthmates , apa kamu tahu fenomena breadcrumbing ?

Jika berselancar di Google, pasti kamu akan menemukan,  breadcrumbing adalah praktik, di mana seseorang memberi sinyal atau kontak yang samar-samar kepada seseorang, terutama melalui pesan teks atau media sosial tanpa memiliki niat serius untuk berkomitmen.

Istilah ini merujuk pada cara seseorang mempertahankan kehadiran dalam kehidupan seseorang dengan memberikan "serpihan" atau "jejak" kecil dari perhatian atau komunikasi, tetapi tidak pernah melakukan langkah-langkah konkret untuk memajukan hubungan tersebut.

Hal ini dapat membuat penerima pesan bingung atau frustrasi karena mereka mungkin mengira ada minat yang nyata, namun pada kenyataannya, orang yang melakukan breadcrumbing mungkin hanya ingin mempertahankan pilihan atau opsi mereka terbuka tanpa harus berkomitmen sepenuhnya. 

Praktik ini sering kali dianggap tidak etis karena dapat menyebabkan perasaan tersakiti dan membuang-buang waktu dan emosi seseorang.

Secara garis besar, breadcrumbing memang dapat diartikan seperti itu. Namun, breadcrumbing ini juga bisa diterapkan dalam dunia bisnis lho .

Baca Juga: Meningkatnya Kebutuhan Adopsi AI dalam Customer Journey demi Keberlangsungan Bisnis

Fenomena Breadcrumbing dalam Bisnis

Fenomena " breadcrumbing " dalam konteks bisnis bisa juga merujuk pada strategi pemasaran di mana perusahaan menarik pelanggan dengan menawarkan sesuatu secara gratis atau dengan biaya yang sangat rendah, tetapi pada akhirnya mereka dihadapkan pada biaya tambahan atau keharusan untuk melakukan pembelian lain yang lebih mahal.

Item gratis atau pemberian makanan pembuka gratis, sering digunakan di restoran berbagai jenis masakan, termasuk restoran Italia. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengalaman pelanggan dan mendorong pelanggan memesan menu utama.