Pertumbuhan penduduk India sendiri masih mengalami peningkatan yang mengakibatkan terjadinya peningkatan konsumsi minyak nabati, pada tahun 2008-2009 sebesar 14,1 juta ton, menjadi 22,5 juta ton pada 2021-2022.

Menurut Dr. B. V. Mehta, Direktur Eksekutif The Solvent Extractors’ Association of India, komoditas utama yang diimpor India adalah minyak kelapa sawit, dimana 60% mayoritas diperoleh dari Indonesia, Malaysia dan sedikit dari Thailand.

“Konsumsi minyak kelapa sawit mencapai 25 juta ton, atau 33% dari total konsumsi minyak nabati nasional India, yang diikuti oleh minyak kedelai (24%), dan minyak bunga matahari (8%). Minyak kelapa sawit terkenal di sektor restoran, dan katering,” papar Mevta.

Dari data tersebut, jelas bahwa minyak sawit memberikan manfaat yang besar bagi kedua negara. Ya, India menjadi mitra dagang yang sangat penting dan strategis bagi Indonesia.

Namun, meski saat ini Pemerintah India berencana mengurangi impor minyak sawit mentah (CPO) secara signifikan karena membuka lahan dan perkebunan kelapa sawit di Negara Bagian Telangana, India bagian selatan, dengan target 2 juta hektar dalam 4 tahun ke depan (perkiraan produksi hingga 4 juta ton CPO setiap tahunnya), tetapi tak bisa dipungkiri, dengan semakin meningkatnya populasi penduduk India, tentu masih sangat membutuhkan minyak sawit Indonesia.Dan, perlu juga dicatat kondisi agroekosistem di India dan potensi produktivitas minyak sawit yang bisa dicapai, rasanya masih di bawah kondisi pengembangan sawit di Indonesia.

Adapun, menurut laporan Statistik Indonesia terbaru, volume ekspor minyak kelapa sawit nasional pada 2023 mencapai 27,49 juta ton, dengan nilai US$23,97 miliar. Dan sepanjang 2023, India menjadi negara tujuan utama ekspor minyak kelapa sawit Indonesia, dengan volume 5,4 juta ton atau 19,65% dari total ekspor nasional. Nilai ekspornya sendiri mencapai US$4,51 miliar.

Baca Juga: Dipimpin Riau, Berikut Provinsi dengan Perkebunan Kelapa Sawit Terluas di Indonesia