Direktur INDEF Green Transition Initiative, Imaduddin Abdullah, menilai bahwa pengembangan mineral kritis perlu memperhatikan aspek keberlanjutan. Pasalnya, mineral kritis erat kaitannya dengan transisi energi, final consumer-nya adalah orang-orang yang peduli dengan isu lingkungan.

Dengan karakteristik tersebut, konsumen akan mempertimbangkan aspek lingkungan dalam rantai pasok mineral tersebut, mulai dari hulu hingga ke hilir. Imaduddin menilai, kondisi tersebut menjadi salah satu potensi yang bisa bagi perusahaan yang memperhatikan aspek-aspek keberlanjutan dalam proses bisnis mereka.

Baca Juga: Menakar Potensi Mineral Kritis untuk Transisi Energi

"Ini bisa menjadi salah satu insentif bagi perusahaan karena competitiveness itu ditentukan oleh aspek ESG-nya," ungkap Imaduddin kepada Olenka, dilansir pada Kamis (18/6/2026).

Ia menambahkan, jika suatu perusahaan tidak bisa comply dengan aspek ESG (environmental, social, and governance, maka sulit untuk bersaing baik secara nasional maupun global.

"Jadi saya melihat bahwa ke depan potensinya akan semakin besar untuk mengaitkan antara transisi energi, sustainability, dan juga industrialisasi mineral kritis di Indonesia," tambahnya lagi.