Menurut Eka selama pemerintah belum membuat batasan dalam memproduksi plastik, maka upaya menggunakan kemasan tradisional itu mustahil tercapai, masyarakat bakal kembali menggunakan plastik ketika harganya normal kembali.
"Meskipun harga naik, kalau tidak ada alternatif yang terjangkau dan praktis, perilaku konsumsi tidak akan berubah signifikan. Persoalannya bukan hanya di harga, tapi di struktur sistem produksi dan distribusi yang memang didesain bergantung pada plastik,” jelasnya.
Ia menilai, momentum kenaikan harga plastik seharusnya dimanfaatkan pemerintah untuk mendorong kebijakan yang lebih progresif.
"Momentum ini seharusnya dimanfaatkan untuk mendorong kebijakan yang lebih tegas, seperti pembatasan plastik sekali pakai, penerapan tanggung jawab produsen (EPR), dan pengembangan sistem guna ulang,” katanya.
Eka menyayangkan langkah pemerintah yang memperluas industri petrokimia saat permasalahan sampah plastik tidak tertangani. Eka mengajak masyarakat untuk menjadikan kondisi ini sebagai momentum refleksi sekaligus awal perubahan menuju gaya hidup lebih ramah lingkungan.
“Jadi kuncinya ada pada keberanian untuk mengubah arah kebijakan, bukan mempertahankan model lama,” tegasnya.