Perjalanan Karier Arifin C. Noer
Karier Arifin C. Noer terus berlanjut di dunia teater hingga ia memutuskan merantau ke Jakarta saat memasuki usia 27 tahun. Pada 1968, ia mendirikan Teater Ketjil dan melahirkan banyak karya yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing.
Seperti lakonnya dalam Kapai – Kapai berhasil dipentaskan dalam bahasa Inggris dan Belanda di Amerika Serikat, Belgia, dan Australia. Hal tersebut dianggap menarik hingga ia dianggap sebagai pengembang seni teater eksperimental.
Di tengah minat dan impiannya sebagai seniman, Arifin sempat meniti karier sebagai manajer personalia Yayasan Dana Bantuan Haji Indonesia dan wartawan Harian Pelopor Baru. Namun, setelah empat tahun berkarier, ia memutuskan keluar dan fokus pada kariernya di dunia teater.
Setelah itu, ia mengikuti International Writing Program di University of Iowa, Amerika Serikat, untuk memperdalam kemampuan menulis. Sepulang dari sana, Arifin mulai serius terjun ke dunia film sebagai penulis skenario dan sutradara.
Debut penyutradaraannya terlihat lewat film Pemberang (1972), disusul Rio Anakku (1973) dan Melawan Badai (1974). Sejak saat itu, ia aktif menyutradarai berbagai film dan sinetron, sekaligus menulis skenario untuk karya-karyanya sendiri.
Baca Juga: Mengenang Sosok Soedarpo Sastrosatomo, Sang Raja Kapal Indonesia
Salah satu karya Arifin yang paling kontroversial adalah Pengkhianatan G30S/PKI (1984). Kendati begitu, film ini menjadi karya terlarisnya dan bahkan dijuluki sebagai film “superinfra box office”.
Pada era Orde Baru, film tersebut sempat diwajibkan tayang setiap 30 September di seluruh stasiun televisi untuk memperingati peristiwa G30S 1965. Kebijakan itu kemudian dihentikan pada 1997, seiring berakhirnya rezim Orde Baru.
Lewat film ini, Arifin berhasil meraih Piala Citra FFI 1985 untuk kategori Penulis Skenario Terbaik. Tak hanya itu, pada Festival Film Indonesia 1990, film Taksi dinobatkan sebagai Film Terbaik dan berhasil membawa pulang enam Piala Citra.
Meski raganya telah tiada, karya-karya Arifin C. Noer dikenang sepanjang masa. Mendiang Arifin menghembuskan nafas terakhirnya di Jakarta, 28 Mei 1995 genap di usianya ke-54 tahun. Sebelum meninggal, Arifin sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Medistra, Jakarta karena penyakit kanker.