Growthmates, mengunyah es batu mungkin menjadi kebiasaan yang dilakukan sebagian orang untuk menyegarkan mulut atau sekadar menikmati sensasi dinginnya. Namun, bagaimana jika keinginan tersebut muncul terus-menerus, terasa sangat kuat, bahkan sulit dikendalikan?
Kebiasaan mengunyah es batu secara berulang dan kompulsif ternyata dapat menjadi tanda suatu kondisi yang disebut pagophagia. Kondisi ini tidak sekadar berkaitan dengan kebiasaan makan, tetapi juga bisa menjadi indikasi adanya masalah kesehatan tertentu, salah satunya kekurangan zat besi.
Pagophagia merupakan bagian dari pica, yaitu kondisi ketika seseorang memiliki dorongan untuk mengonsumsi benda-benda yang bukan makanan atau tidak memiliki nilai gizi. Selain es batu, perilaku pica juga dapat berupa keinginan mengonsumsi kapur, tanah, kertas, hingga benda lainnya.
Baca Juga: Tak Pernah Minum Alkohol Bukan Berarti Hati Aman, Waspadai 5 Kebiasaan Ini
Es batu menjadi salah satu objek yang sering dikonsumsi karena mudah ditemukan dan memberikan sensasi dingin yang menyegarkan. Meski demikian, keinginan untuk terus mengunyah es batu, terutama dalam jumlah berlebihan, tidak boleh dianggap sebagai kebiasaan biasa.
Sayangnya, belum banyak orang yang mengenali pagophagia maupun memahami faktor yang dapat memicunya. Lantas, apa sebenarnya pagophagia, bagaimana gejalanya, dan apa saja penyebabnya? Simak penjelasan berikut ini.
Pengertian Pagophagia
Pagophagia merupakan salah satu bentuk pica yang ditandai dengan dorongan kuat dan berulang untuk mengunyah atau mengonsumsi es batu. Kondisi ini dapat membuat seseorang terus-menerus ingin menggigit, mengulum, atau mengunyah es meskipun tidak sedang merasa haus.
Kebiasaan tersebut diketahui memiliki kaitan dengan kekurangan zat besi, baik yang disertai anemia maupun tidak. Karena itu, pagophagia terkadang menjadi salah satu petunjuk adanya defisiensi zat besi yang belum terdeteksi.
Selain berkaitan dengan kondisi nutrisi, kebiasaan mengunyah es batu secara berlebihan juga berpotensi menimbulkan masalah pada kesehatan gigi dan mulut. Tekstur es yang keras dapat menyebabkan enamel gigi terkikis, gigi retak, hingga kerusakan pada tambalan gigi. Suhu dingin yang ekstrem juga dapat memicu sensitivitas gigi.
Gejala Pagophagia
Ciri utama pagophagia adalah munculnya keinginan kuat untuk mengunyah es batu secara berulang. Seseorang dengan kondisi ini mungkin merasa sulit menahan dorongan tersebut dan terus mencari es untuk dikonsumsi.
Jenis es yang dikonsumsi pun beragam, mulai dari es batu, es serut, es yang dihancurkan, hingga bunga es yang terbentuk di dalam freezer.
Baca Juga: Gemar Makan Junk Food dan Tak Minum Air Putih, Ini Kebiasaan Warren Buffett yang Bikin Panjang Umur
Selain kebiasaan tersebut, pagophagia yang berkaitan dengan kekurangan zat besi dapat disertai sejumlah gejala lain, seperti:
- Kulit tampak pucat.
- Tubuh mudah lelah dan lemas.
- Sering mengalami sakit kepala.
- Lidah terasa nyeri atau perih.
- Detak jantung lebih cepat dari biasanya.
- Pusing, terutama ketika berdiri.
- Sulit berkonsentrasi.
Perlu dipahami bahwa gejala-gejala tersebut tidak selalu dialami oleh setiap orang dengan pagophagia. Keluhan yang muncul juga dapat berkaitan dengan kondisi medis lain, sehingga pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Penyebab Pagophagia
Penyebab pasti pagophagia belum sepenuhnya dipahami. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kondisi ini dengan kekurangan zat besi. Selain itu, beberapa faktor lain juga diduga berperan dalam kemunculannya.
1. Kekurangan Zat Besi
Salah satu faktor yang paling sering dikaitkan dengan pagophagia adalah rendahnya kadar zat besi dalam tubuh. Sejumlah penelitian menemukan bahwa orang dengan defisiensi zat besi memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami dorongan mengunyah es batu.
Zat besi merupakan mineral penting yang dibutuhkan tubuh untuk memproduksi hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh.
Ketika tubuh kekurangan zat besi, produksi hemoglobin dapat terganggu dan memicu anemia defisiensi besi. Kondisi ini dapat menimbulkan keluhan seperti mudah lelah, pusing, sakit kepala, hingga sulit berkonsentrasi.
Hubungan antara kekurangan zat besi dan keinginan mengunyah es batu memang belum sepenuhnya diketahui mekanismenya. Namun, beberapa teori menyebutkan bahwa mengunyah es dapat memberikan efek sementara yang meningkatkan kewaspadaan pada orang dengan anemia defisiensi besi.
Baca Juga: Suka Rapi Belum Tentu OCD, Ini Perbedaan Kebiasaan dan Gangguan Mental
2. Kekurangan Nutrisi Lain
Selain zat besi, kekurangan nutrisi tertentu juga diduga berhubungan dengan perilaku makan yang tidak biasa. Beberapa mineral, seperti zinc dan kalsium, kerap dikaitkan dengan kondisi pica.
Meski demikian, bukti ilmiah yang secara khusus menghubungkan kekurangan zinc atau kalsium dengan pagophagia masih terbatas. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan untuk memastikan apakah kebiasaan mengunyah es batu berkaitan dengan kekurangan nutrisi tertentu.
3. Adanya Gangguan Psikologis
Faktor psikologis juga dapat berperan dalam munculnya perilaku mengunyah es batu secara berulang. Dalam beberapa kasus, perilaku pica dikaitkan dengan kondisi kesehatan mental, seperti gangguan obsesif-kompulsif (OCD), depresi, dan post-traumatic stress disorder (PTSD).
Pada kondisi tertentu, mengunyah es batu dapat menjadi perilaku berulang yang dilakukan seseorang untuk meredakan ketegangan, kecemasan, atau stres. Sensasi yang muncul ketika mengunyah es mungkin memberikan rasa nyaman atau kepuasan sementara.
Namun, kebiasaan mengunyah es batu tidak serta-merta menandakan seseorang mengalami gangguan psikologis. Faktor nutrisi dan kondisi kesehatan lainnya tetap perlu dipertimbangkan dalam menentukan penyebab pagophagia.