Di balik sederet inovasi bioteknologi yang menjadi fondasi kesehatan global, nama Carina Citra Dewi Joe terus bersinar sebagai salah satu ilmuwan Indonesia yang menorehkan prestasi di panggung dunia. Sebagai ahli dalam pengembangan vaksin dan teknologi biologis, Carina berkontribusi penting dalam berbagai proyek ilmiah berskala internasional.

Berbekal pendidikan bioteknologi dari Royal Melbourne Institute of Technology hingga gelar doktoral di bidang yang sama, langkah akademisnya mengantarkan Carina ke Jenner Institute, Universitas Oxford, tempat ia menjadi salah satu arsitek utama pengembangan vaksin Oxford–AstraZeneca.

Kini, setelah pandemi mereda, kontribusi Carina tak berhenti. Ia terus melanjutkan kiprahnya sebagai ilmuwan visioner dengan memimpin pengembangan obat dan antibodi berbasis kecerdasan buatan melalui perusahaan bioteknologi rintisannya, sekaligus mengembangkan vaksin untuk penyakit menular seperti tuberkulosis dan rabies.

Kiprahnya pun telah diakui melalui berbagai penghargaan bergengsi. Terbaru, pada Agustus 2025 lalu, Presiden Prabowo Subianto juga menganugerahkan Carina Bintang Jasa Utama kepada Carina. Prestasi tersebut bukan sekadar deretan gelar, tetapi cerminan kontribusi nyata Carina dalam mendorong batas kemampuan sains modern.

Lantas, siapa sebenarnya Carina Citra Dewi Joe? Dikutip dari berbagai sumber, Selasa (18/11/2025), berikut ulasan Olenka mengenai profil dan kiprah ilmuwan inspiratif tersebut.

Kehidupan Pribadi

Carina Citra Dewi Joe lahir di Jakarta pada 21 April 1989. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang gemar membaca, menyukai tantangan, dan memiliki rasa ingin tahu besar terhadap sains. Orang tuanya menanamkan nilai disiplin dan kerja keras, dua fondasi yang kelak membentuk ketangguhannya ketika menghadapi tekanan penelitian di panggung global.

Ia menempuh pendidikan di SD Kemurnian II (1994–2000), SMP Kristen IPEKA Tomang II (2001–2003), kemudian berlanjut di SMAK 1 BPK Penabur Jakarta, di mana ia menyelesaikan program akselerasi hanya dalam dua tahun (2003–2004).

Sebuah momen sederhana di bangku SMA menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Guru biologinya, Ibu Lili, memperlihatkan presentasi tentang bioteknologi, bidang yang saat itu belum populer di Indonesia, dan menunjukkan bagaimana rekayasa genetika dapat mengubah warna ikan.

Dikutip dari IDN Times, pengalaman itu menyalakan ketertarikan Carina terhadap bioteknologi dan mendorongnya memilih jalur akademik yang jarang ditempuh siswa Indonesia pada masa itu.

Awal Karier dan Jejak Ilmiah

Dikutip dari laman LinkedIn pribadinya, Carina melanjutkan pendidikan tinggi keluar negeri dan meraih Bachelor of Science dari The University of Hong Kong pada 2008. Ia kemudian memperdalam bidang yang sama dengan menempuh Master of Biotechnology (2012–2014) dan Ph.D. in Biotechnology (2015–2019) di RMIT University, Australia.

Perjalanan studinya berjalan seiring dengan pengalaman profesionalnya, karena setelah lulus sarjana ia bergabung dengan CSIRO (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation), lembaga riset nasional Australia, di mana ia berkecimpung selama hampir tujuh tahun dalam pengembangan proses manufaktur biologis, termasuk proyek vaksin hepatitis B.

Dalam wawancara di acara ‘Ngosyek’ di Instagram Duta Besar RI untuk Inggris, dikutip dari Detik, Carina mengisahkan bahwa pengalaman industrinya membuka pintu menuju riset global. Setelah lulus S1, ia mendapat tawaran magang di perusahaan Australia yang kemudian mendorongnya melanjutkan pendidikan hingga PhD.

“Setelah PhD, lanjut internship tujuh tahun. Karena saya latar belakangnya industri, sementara apply ke postdoc Oxford, mereka senang sama background industri saya,” tuturnya.

Latar belakang inilah yang memperkuat posisinya saat diterima bergabung dalam riset vaksin AstraZeneca.

Carina juga menjelaskan bahwa proses pembuatan vaksin yang biasanya memakan waktu sepuluh tahun dipercepat menjadi hanya sekitar satu setengah tahun. Menurutnya, hal ini dapat dipahami sebagai sesuatu yang membingungkan bagi publik, sehingga edukasi mengenai cara kerja produksi vaksin menjadi sangat penting.

Ia menegaskan bahwa “produksi vaksin tetap dilaksanakan sesuai peraturan yang berlaku, hanya saja proses birokrasi dipercepat dan beberapa tahap dilakukan secara paralel karena situasi kedaruratan,” ungkapnya.

Ia pun kembali menekankan bahwa percepatan tersebut terjadi bukan karena pemotongan proses ilmiah, melainkan karena urgensi global.

Baca Juga: Mengenal Herawati Sudoyo: Perempuan Pemimpin Laboratorium DNA Forensik dan Peneliti Utama Eijkman

Misi Global di Tengah Pandemi

Pada awal 2020, ketika pandemi COVID-19 melanda, laboratorium Oxford menjadi salah satu titik pusat penelitian dunia. Pemerintah Inggris sempat meminta para ilmuwan kembali ke rumah, namun riset tidak bisa berhenti.

Saat itu, Carina diminta tetap bekerja seorang diri selama enam bulan pertama, sementara kasus meningkat tajam. Ia bekerja 16–18 jam per hari, tujuh hari seminggu, tanpa kesempatan merekrut anggota baru.

“Kami tidak sempat merekrut orang baru karena tekanan dan tenggat waktu terbatas,” ujarnya, dikutip Detik.

Tekanan itu begitu berat hingga ia sempat berpikir untuk berhenti, tetapi rekan-rekannya mengingatkan bahwa ada jutaan orang yang membutuhkan hasil kerja mereka. Kesadaran itu membuat Carina bertahan.

Dikutip dari BBC, pada 15 Januari 2020, Carina menemukan metode awal produksi vaksin yang menjadi salah satu kunci teknologi Oxford–AstraZeneca.

Disebut sebagai formula ‘dua sendok makan sel’, yakni 30 milliliter sel, temuan ini memungkinkan produksi vaksin sepuluh kali lebih banyak dengan bahan yang sama, mempercepat proses skala industri, dan menekan biaya sehingga lebih mudah diakses negara berkembang.

Ketua tim manufaktur, Dr. Sandy Douglas, bahkan menyebut terobosan itu sebagai salah satu tonggak utama produksi vaksin global. Berkat percepatan riset dan rolling review WHO, proses yang biasanya memakan satu dekade dapat diselesaikan dalam waktu singkat.

Dikutip dari Ubaya.ac.id, Carina menegaskan bahwa semua standar keamanan tetap dipenuhi. Hasil akhirnya luar biasa, vaksin AstraZeneca pun diproduksi lebih dari 3 miliar dosis dan digunakan di lebih dari 170 negara.

Penghargaan dan Pengukuhan Akademik

Kontribusi Carina mendapat pengakuan luas di berbagai panggung internasional. Ia menjadi bagian dari tim Oxford yang meraih Pride of Britain Award, menerima GQ Awards – Special Recognition, serta dinobatkan sebagai People of the Year 2021 oleh Metro TV dan Woman of the Year 2021 oleh Times Indonesia.

Ia juga meraih Young Investigator Award – Vaccines 2022, dianugerahi Achmad Bakrie Award XIX pada 2023, dan masuk daftar Gen.T Leaders of Tomorrow versi Tatler Asia tahun 2025.

Pada Agustus 2025 lalu, Presiden RI, Prabowo Subianto pun memberinya Bintang Jasa Utama, sementara MPR RI turut memberikan penghargaan atas kontribusinya sebagai inovator vaksin yang berdampak global.

Sementara itu, dikutip dari Unair.ac.id, pada 20 Desember 2023 Carina dikukuhkan sebagai Prof. (H.C.UA). Dr. Carina Citra Dewi Joe, BSc, MSc, PhD, Guru Besar Kehormatan di bidang Ilmu Rekayasa Bio-Manufaktur.

Dalam pidatonya bertajuk 'Innovative Strategies For Preventing And Overcoming Pandemics', ia menekankan pentingnya integrasi teknologi, kolaborasi multidisiplin, dan kesiapan manusia dalam menghadapi pandemi mendatang.

Setelah sukses di panggung global, Carina memilih kembali mengabdi di Tanah Air. Ia kini menjabat sebagai Profesor di Universitas Airlangga, Adjunct Professor di Universitas Hasanuddin, serta Senior Consultant di Kalbe International.

Selain itu, ia mendirikan sebuah startup bioteknologi berbasis kecerdasan buatan yang berfokus pada penemuan obat. Peran-peran ini dijalani secara hybrid, mencerminkan komitmen Carina dalam membangun kapasitas ilmiah Indonesia.

Dalam perjalanan profesionalnya, Carina juga memperkuat kompetensinya melalui pelatihan internasional, mulai dari ISO 9001 Certified RPPF di Australia (2017–2018), cGMP Training di Australia dan Oxford (2018–2019), Tangential Flow Filtration Symposium di Oxford (2021), hingga pelatihan Design of Experiments pada 2022. Pengalaman ini mengukuhkan posisinya sebagai ahli dalam bio-manufaktur berskala industri.

Visi dan Komitmen Carina untuk Perempuan di Bidang STEM

Dalam sebuah kesempatan, Carina memaparkan bahwa ia memiliki visi besar, yakni Indonesia harus memiliki kemampuan riset dan produksi vaksin secara mandiri.

Karenanya, ia pun aktif membangun jejaring global, mendorong transfer teknologi, dan membina ilmuwan muda. Ia percaya bahwa Indonesia memiliki banyak talenta, namun membutuhkan infrastruktur dan akses teknologi yang lebih baik. Carina juga menegaskan bahwa ketangguhan adalah kunci kesuksesan.

“Yang nomor satu adalah ketangguhan. Sebagus apa pun kemampuan kita, tanpa ketangguhan, kita tidak akan sampai,” paparnya, dikutip dari Widya Indonesia.

Baginya, penelitian adalah perjalanan panjang penuh ketidakpastian; ilmuwan harus siap menghadapi kejenuhan, kegagalan, dan proses berulang yang melelahkan, karena riset adalah maraton, bukan sprint.

Komitmennya terhadap pemberdayaan perempuan di dunia sains juga sangat kuat. Masih dikutip dari Widya Indonesia, ia pun berpesan dan mendorong perempuan muda untuk bermimpi setinggi mungkin, mencari pengalaman nyata melalui magang, memilih bidang yang mereka cintai, dan tidak takut menjadi berbeda.

Ia menyoroti menurunnya jumlah perempuan di posisi tinggi STEM dan menekankan perlunya sistem pendukung yang lebih kuat, termasuk fasilitas laboratorium memadai dan kolaborasi industri–kampus.

Baca Juga: Mengenal Sosok Pratiwi Sudarmono, Ilmuwan Indonesia yang Nyaris Mengangkasa