Di tengah ketatnya persaingan industri global, nama Anne Patricia Sutanto menonjol sebagai salah satu pemimpin perempuan paling berpengaruh di sektor manufaktur Indonesia. 

Ia merupakan Vice President Director PT Pan Brothers Tbk, salah satu perusahaan garmen terbesar di Tanah Air yang berorientasi ekspor dan menjadi pemasok bagi berbagai merek ternama dunia.

Kepemimpinan Anne tak hanya dikenal di industri tekstil dan garmen. Rekam jejaknya membentang luas, mulai dari industri perkayuan, tekstil, dan furnitur, hingga agribisnis, bioteknologi, serta perdagangan dan investasi internasional. 

Dan, di balik posisinya yang strategis, Anne Patricia Sutanto dikenal sebagai sosok yang tangguh, visioner, dan adaptif menghadapi perubahan pasar global. 

Lantas, seperti apa sebenarnya sosok Anne Patricia Sutanto lebih dekat? Dikutip dari berbagai sumber, Jumat (20/2/2026), berikut ulasan Olenka selengkapnya.

Latar Belakang Keluarga dan Kehidupan Pribadi

Dikutip dari laman Inilah.com, lahir di Surakarta (Solo), 28 Oktober 1972, Anne tumbuh dalam lingkungan keluarga pengusaha yang bergerak di industri kayu melalui PT Kayu Lapis Indonesia. Lingkungan pabrik dan diskusi bisnis sudah menjadi bagian dari kesehariannya sejak kecil.

Ia adalah istri dari Edmond Setiadarma serta ibu dari Emilio Setiadarma dan Elena Setiadarma. Di tengah kesibukannya memimpin berbagai perusahaan, Anne tetap menempatkan keluarga sebagai prioritas utama.

Jejak Pendidikan

Komitmen Anne Patricia Sutanto terhadap pendidikan terlihat jelas dari rekam jejak akademiknya yang solid dan bertaraf internasional.

Ia meraih gelar Sarjana Teknik Kimia dengan minor Administrasi Bisnis dari University of Southern California pada 1993, lalu melanjutkan pendidikan Master of Business Administration (MBA) bidang Keuangan di Loyola Marymount University pada 1994.

Tak berhenti di sana, sejak 2021 ia kembali menempuh pendidikan Sarjana Hukum di Universitas Indonesia, menunjukkan semangat belajarnya yang tak pernah padam. Awalnya, Anne bercita-cita menjadi ilmuwan dan memilih jurusan teknik kimia demi berkarier di bidang riset. 

Namun, hidup membawanya pada arah berbeda. Dikutip dari IDN Times, ketika sang ayah terserang stroke saat mengunjunginya di Amerika Serikat pada 1991, ia memutuskan mengubur mimpinya dan pulang ke Indonesia untuk membantu bisnis keluarga. 

Keputusan tersebut bukan tanpa tantangan; ia sempat diragukan untuk langsung terjun mengelola perusahaan. Untuk membuktikan kapasitas dan keseriusannya, Anne kembali memperdalam ilmu bisnis dan keuangan melalui studi MBA, sebuah langkah yang menjadi fondasi kuat bagi perjalanan kariernya di dunia usaha.

Awal Karier

Perjalanan karier Anne Patricia Sutanto dimulai pada 1995 saat ia menapakkan kaki di dunia industri melalui PT Kayu Lapis Indonesia (Kayu Lapis Group) di divisi Business Development. 

Industri kayu menjadi fondasi awal yang membentuk naluri bisnis dan ketangguhannya, bahkan kerap ia sebut sebagai first love dalam perjalanan profesionalnya. Di sana, ia belajar memahami dinamika pasar, strategi ekspansi, hingga pentingnya membangun jejaring usaha yang kuat. Namun semangatnya untuk terus berkembang membawanya melangkah ke babak berikutnya.

Pada 1996, ia bergabung dengan PT Batik Keris sebagai Assistant Finance Director, posisi strategis yang menuntut ketelitian sekaligus keberanian mengambil keputusan besar. 

Di usia yang masih sangat muda, Anne dipercaya terlibat dalam proses due diligence dan akuisisi PT Pan Brothers, sebuah tanggung jawab yang tidak hanya menguji kapasitas finansial dan analisisnya, tetapi juga menandai awal keterlibatannya dalam transformasi perusahaan yang kelak tumbuh menjadi salah satu raksasa garmen global.

Kiprah di Pan Brothers

Kiprah Anne Patricia Sutanto di PT Pan Brothers Tbk menjadi cerminan konsistensi dan kepemimpinan jangka panjang yang visioner. 

Mengawali perannya sebagai Director pada 1997, ia terus menapaki tangga kepemimpinan hingga dipercaya sebagai President Commissioner pada 2009–2010, lalu menjabat Vice President Director sejak 2010, serta mengemban tanggung jawab sebagai Vice Chief Executive Officer sejak awal keterlibatannya. 

Dikutip dari laman Bisnis.com, di bawah arahannya, perusahaan ini menjelma menjadi salah satu manufaktur garmen berorientasi ekspor terbesar di Indonesia, memasok lebih dari 40 merek global ternama seperti Uniqlo, Adidas, The North Face, Lacoste, Ralph Lauren, H&M, hingga Tommy Hilfiger. 

Strateginya berfokus pada pengembangan produk bernilai tambah tinggi seperti functional wear, outerwear, dan lifestyle wear, disertai investasi berkelanjutan pada mesin, otomatisasi, serta digitalisasi proses produksi. Tak hanya itu, Pan Brothers juga dikenal sebagai salah satu pengguna membran Gore-Tex terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. 

Memasuki 2024, langkah ekspansi berlanjut dengan memperluas pasar ritel domestik melalui brand Salt n Pepper yang menyasar komunitas olahraga, mempertegas komitmen perusahaan untuk terus bertumbuh secara inovatif dan adaptif di tengah dinamika industri global.

Baca Juga: Mengenal Nucha Bachri, CEO Parentalk yang Menggaungkan Kesetaraan Peran dalam Rumah Tangga

Jabatan Strategis Lintas Sektor

Di luar kiprahnya di Pan Brothers, Anne Patricia Sutanto membangun rekam jejak kepemimpinan yang luas dan konsisten lintas sektor sejak akhir 1990-an. 

Karier strategisnya dimulai sebagai Director di PT Multiyasa Abadi Sentosa (1998–2004), lalu berlanjut memimpin PT Plymilindo Perdana sebagai President Director selama hampir dua dekade sebelum menjabat Commissioner hingga kini. 

Sejak 2004, ia juga dipercaya sebagai Commissioner PT Homeware International Indonesia, memperluas perannya di industri berbasis manufaktur dan produk rumah tangga. 

Kepemimpinannya semakin menguat ketika menjabat President Director PT Indo Veneer Utama (2006–2020), Director PT Nine Square Indonesia (sejak 2008), serta President Director PT Pancaprima Eka Brothers (sejak 2010). 

Di sektor agribisnis dan bioteknologi, ia memegang peran kunci di PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk, bertransformasi dari President Commissioner menjadi President Director, lalu kembali sebagai President Commissioner, serta menjabat President Commissioner di PT Andira Agro dan PT Metaepsi. Keterlibatannya juga mencakup industri kakao sebagai Commissioner PT Golden Harvest Cocoa Indonesia, serta ekspansi internasional melalui perannya sebagai Director PB International B.V.

Dinamika kepemimpinannya terlihat jelas di PT Ocean Asia Industry dan PT Cipta Wastu Salira, di mana ia beberapa kali beralih antara posisi President Director dan Commissioner. 

Aktif di Organisasi 

Dikutip dari laman Andira Agro, Anne Patricia Sutanto juga mengambil peran strategis di berbagai organisasi nasional dan global. Ia merupakan pendiri Indonesian Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE), sebuah inisiatif yang mendorong terciptanya lingkungan kerja yang inklusif dan setara bagi perempuan. 

Kiprahnya turut mewarnai sejumlah organisasi penting seperti Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPINDO), Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), hingga International Apparel Federation (IAF). 

Ia juga terlibat dalam forum B20, yang mempertemukan para pemimpin bisnis dunia untuk merumuskan rekomendasi kebijakan bagi negara-negara G20. 

Tak hanya itu, dikutip dari IDN Times, di tengah kesibukannya sebagai pengusaha, ia tetap aktif dalam kegiatan sosial, termasuk keterlibatannya dalam inisiatif yang terhubung dengan Bill & Melinda Gates Foundation.

Penghargaan

Dikutip dari laman Andira Agro, dedikasi dan kepemimpinan Anne pun mendapat pengakuan internasional. Namanya pernah masuk dalam daftar The Most Powerful Women in Asia versi Forbes pada 2015, menjadi finalis EY Entrepreneur of the Year di tahun yang sama, serta meraih berbagai penghargaan bergengsi seperti Indonesia Best Future Business Leader (2016), Indonesia Business Woman of the Year (2020), dan Women Business Leader of the Year (2022). 

Rangkaian apresiasi tersebut semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu pemimpin perempuan paling berpengaruh di sektor manufaktur Asia, dengan visi yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada dampak sosial yang berkelanjutan.

Pesan untuk Perempuan

Dikutip dari Dewi Magazine, Anne menanamkan nilai inklusivitas dan kepercayaan diri bagi perempuan di lingkungan kerja. Ia percaya bahwa perempuan memiliki kekuatan pada detail, empati, dan visi jangka panjang.

“Tantangannya memang tidak kecil, mulai dari standar kualitas hingga persaingan global. Tapi justru di situ saya melihat kekuatan perempuan: detail, empatik, dan visioner,” ujarnya.

Ia mendorong perempuan untuk tidak hanya berada di level operasional, tetapi juga dalam pengambilan keputusan strategis.

Baca Juga: Profil Sandra Sunanto, CEO Hartadinata Abadi yang Masuk Daftar 100 Wanita Paling Berpengaruh di Asia 2025