Pemerintah RI optimis pertumbuhan ekonomi pada 2026 bakal melesat tanpa kendala berarti. Prospek pertumbuhan ekonomi nasional diyakini melaju sesuai harapan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan, pemerintah sangat percaya diri dengan prospek pertumbuhan ekonomi tahun depan.
Pasalnya mayoritas potensi yang merintangi laju pertumbuhan ekonomi 2026 telah terserap dengan baik sepanjang tahun ini. Airlangga mengatakan terserapnya deretan risiko tersebut bikin ruang penguatan ekonomi terbuka lebih lebar pada tahun depan.
Baca Juga: Agenda Reformasi Bea Cukai: Dukungan DPR, Ancaman Pembekuan hingga Risiko PHK
Airlangga mengatakan bahwa risiko eksternal maupun domestik yang memengaruhi stabilitas makro telah tercermin dalam penyesuaian nilai tukar, harga komoditas, dan suku bunga selama 2025. Dengan kondisi itu, ia menilai prospek pertumbuhan tahun depan semakin positif.
“Risiko yang akan muncul seluruhnya sudah price-in, sudah masuk di dalam tingkat suku bunga dan harga-harga termasuk rupiah di tahun ini. Sehingga untuk tahun 2026 yang kita lihat adalah upside risk, Pak Presiden,” kata Airlangga pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 yang turut dihadiri Presiden RI Prabowo Subianto, di Jakarta dilansir Sabtu (29/11/2025).
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 20026 mencapai 5,4%. Prospek pertumbuhan itu selaras dengan target pemerintah dan target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Bagi Airlangga proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,4 % tidak berlebihan, angka tersebut realistis dengan melihat tren konsumsi, investasi, serta perbaikan sisi moneter.
Salah satu indikator yang memberi sinyal penguatan permintaan domestik adalah peningkatan Mandiri Spending Index yang mencapai 312 pada November 2025, melewati batas ambang 300 sebagai penanda konsumsi kuat.
Dari sisi investasi, penanaman modal tumbuh 13,7% secara tahunan hingga September 2025 dan mencapai Rp1.434 triliun. Belanja pemerintah pun terus dipacu, dengan realisasi anggaran kementerian/lembaga per 24 November sebesar Rp1.109 triliun.
Sementara itu, Bank Indonesia telah menurunkan BI-Rate sebesar 125 basis poin sepanjang 2025 menjadi 4,75%.
Kebijakan tersebut dinilai mampu mendorong kredit usaha dan memperkuat belanja konsumsi. Inflasi hingga Oktober 2025 tercatat 2,86% secara tahunan, berada dalam rentang sasaran nasional.
Baca Juga: Optimisme Bank Danamon Atas Pertumbuhan Ekonomi Domestik di atas 5% pada 2026
Menurut Airlangga, pencapaian tersebut merupakan hasil sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan koordinasi pemerintah daerah. Dengan landasan tersebut, pemerintah percaya tahun 2026 menawarkan peluang pertumbuhan lebih kuat.
“Kita berharap dan optimis tahun depan akan lebih baik dari tahun ini,” ujar Airlangga