Pernah merasa sudah berkali-kali swipe di aplikasi kencan, bertemu beberapa orang, tetapi tidak ada satu pun yang terasa benar-benar cocok? Bisa jadi masalahnya bukan karena tidak ada calon pasangan yang menarik, melainkan karena daftar kriteria yang dibuat sudah terlalu panjang.

Di era aplikasi kencan, mencari pasangan memang terasa seperti punya pilihan yang tidak ada habisnya. Tinggal swipe, pilih, cocok, lalu mengobrol. Namun, banyaknya pilihan justru tidak selalu membuat proses mencari pasangan menjadi lebih mudah.

Fenomena ini dikenal sebagai “Checklist Fatigue”, yakni kelelahan yang muncul karena seseorang memiliki terlalu banyak kriteria dan ekspektasi ketika mencari pasangan.

Tinggi badan harus sekian. Pekerjaan harus mapan. Penghasilan minimal sejumlah tertentu. Penampilan harus sesuai selera. Belum lagi kepribadian, gaya hidup, hingga latar belakang keluarga.

Baca Juga: Cara Menghindari Konflik saat Menjalankan Bisnis Bersama Pasangan Menurut Business Coach

Satu per satu kriteria tersebut kemudian digunakan untuk menentukan apakah seseorang layak diberi kesempatan atau langsung dieliminasi.

Violet Lim, CEO dan Co-Founder Lunch Actually, mengatakan fenomena tersebut cukup sering ia temui ketika menangani para singles.

“Saya sering bertemu wanita yang menyebutkan tinggi badan, bidang pekerjaan, sampai perkiraan bonus tahunan dari kriteria pasangan yang mereka inginkan, tetapi mereka tidak menyebutkan bagaimana mereka ingin diperlakukan saat sedang mengalami hari yang buruk,” kata Violet dalam siaran resminya yang diterima Olenka pada Kamis (27/08/2026).

Menurutnya, daftar kriteria yang panjang tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang terlalu pemilih. Dalam beberapa kasus, kriteria tersebut justru menjadi bentuk perlindungan diri setelah seseorang mengalami kekecewaan dalam hubungan sebelumnya.

Baca Juga: Benarkah Kebiasaan Menggigit Puting Pasangan Bisa Menyebabkan Kanker Payudara? Begini Kata Dokter Ahli

Masalahnya, ketika daftar tersebut semakin panjang, kesempatan untuk benar-benar mengenal seseorang juga semakin kecil.

Seseorang bisa saja memiliki sifat yang sebenarnya cocok, tetapi langsung dianggap tidak memenuhi syarat hanya karena tinggi badan kurang beberapa sentimeter atau pekerjaannya tidak sesuai ekspektasi.

Pada akhirnya, proses mencari pasangan berubah menjadi pencarian terhadap sosok yang nyaris sempurna.

Padahal, sosok seperti itu mungkin memang tidak ada.

Kelelahan mencari pasangan melalui aplikasi kencan juga tercermin dalam survei OnePoll untuk Forbes Health pada 2024 terhadap 1.000 pengguna aplikasi kencan. Sebanyak 78% responden mengaku mengalami dating app fatigue.

Angka tersebut bahkan lebih tinggi pada Gen Z, yakni 79%, dan mencapai 80% di kalangan perempuan.

Menariknya, salah satu alasan terbesar mereka merasa lelah justru karena sulit menemukan hubungan yang baik, meskipun pilihan yang tersedia di aplikasi sangat banyak.

Sebanyak 40% responden menyebut kesulitan menemukan hubungan yang baik sebagai salah satu alasan utama mereka mengalami kelelahan.

“Semakin banyak pilihan ternyata tidak mempermudah. Yang ada malah menjadi kelelahan,” ujar Violet.

Lantas, bagaimana supaya mencari pasangan tidak terasa seperti mengikuti proses rekrutmen?

Salah satu caranya adalah membedakan antara preferensi dan nilai hidup.

Tinggi badan, pekerjaan, jabatan, atau penampilan bisa menjadi preferensi. Tidak ada yang salah dengan memiliki selera tertentu. Namun, hal-hal tersebut belum tentu menjadi fondasi hubungan jangka panjang.

Sebaliknya, cara seseorang menghadapi konflik, memperlakukan pasangan, memegang tanggung jawab, serta memandang kehidupan bersama justru lebih penting untuk diperhatikan.

Coba tanyakan kepada diri sendiri: kalau satu kriteria ini tidak terpenuhi, apakah saya masih mau mengenal orang tersebut?

Jika jawabannya iya, mungkin kriteria itu sebenarnya hanya nice to have, bukan sesuatu yang wajib.

Hal yang sama berlaku ketika memilih pasangan berdasarkan kondisi finansial.

Daripada hanya bertanya berapa penghasilan seseorang, lebih menarik untuk mengetahui bagaimana ia memandang uang. Apa tujuan menabungnya? Bagaimana ia menggunakan bonus? Seberapa besar tanggung jawab finansialnya terhadap keluarga?

Sebab, penghasilan besar tidak otomatis berarti seseorang memiliki kebiasaan finansial yang sehat.

Baca Juga: BPS: Masalah Ekonomi Jadi Penyebab Perceraian Nomor Dua di Indonesia

Begitu pula dengan penampilan atau pekerjaan. Profil yang menarik mungkin membuat seseorang mendapatkan kesempatan untuk berkencan, tetapi belum tentu membuat hubungan tersebut bertahan.

Menurut Violet, singles juga perlu memberi ruang bagi ketidaksempurnaan.

“Ini bukan soal menemukan orang yang sempurna. Ini soal menemukan dua orang yang bisa menerima kondisi mereka apa adanya, dengan segala ketidaksempurnaan,” ujarnya.

Jadi, kalau belakangan ini proses mencari pasangan terasa semakin melelahkan, mungkin sudah waktunya mengecek kembali daftar kriteria yang selama ini dibuat.

Bukan berarti harus menurunkan standar. Hanya saja, mungkin ada beberapa standar yang sebenarnya tidak perlu menjadi syarat mutlak.

Karena pada akhirnya, mencari pasangan bukan tentang menemukan manusia yang memenuhi seluruh checklist. Bisa jadi, yang lebih penting adalah menemukan seseorang yang memiliki nilai hidup yang sejalan dan tetap terasa nyaman untuk diajak menjalani kehidupan nyata.