Sementara itu, Aktor sekaligus Sineas dan alumni pesantren, Syakir Daulay, mengatakan, keterlibatannya dalam SANFFEST menjadi kehormatan tersendiri. Ia berharap keberadaan festival tersebut dapat membuat santri semakin percaya diri untuk berkarya di bidang perfilman.

Menurutnya, SANFFEST dapat menjadi jembatan agar karya santri tidak berhenti di lingkungan pesantren, tetapi dapat dikenal lebih luas.

“Dulu kita di pesantren pengen ngasih tahu karya kita, susah payah. Tapi, sekarang dengan adanya SANFFEST, semoga santri bisa go to national. Kita bisa berkarya untuk negeri, go international bahkan,” ujarnya.

Syakir juga berharap, pengembangan SANFFEST ke depan dapat menjangkau lebih banyak pesantren melalui kegiatan edukasi dan pendampingan. Ia menilai santri perlu mendapatkan bekal mengenai teknik dan bahasa visual sebelum membuat karya film.

“Kayaknya ke depan sebelum SANFFEST mulai kita harus tour dulu ke pesantren. Supaya anak-anak santri punya bekal visual. Dan aku yakin sangat banyak orang-orang di film yang mau menyedekahkan ilmu filmnya untuk para santri,” katanya.

Dalam berkarya, Syakir mengingatkan agar santri tidak hanya menampilkan kehidupan di pesantren, tetapi juga membawa nilai-nilai kesantrian untuk membaca berbagai persoalan kehidupan di luar pesantren.

“Santri membuat film dengan iqra dengan zaman. Dia bukan mempertontonkan kehidupan santrinya, akan tetapi bisa memperlihatkan kehidupan di luar pesantren dengan nilai-nilai kesantriannya. Itu harapannya,” ujar Syakir.

Dari sisi penyelenggaraan, Project Manager SANFFEST, Fadhli Sapawie, menjelaskan bahwa SANFFEST 2026 menghadirkan tiga kategori utama, yakni Santri Pelajar, Santri Umum, dan Inklusi.

Kategori Santri Pelajar diperuntukkan bagi peserta dengan usia maksimal 20 tahun. Sementara kategori Santri Umum diperuntukkan bagi peserta berusia 21 hingga maksimal 30 tahun, termasuk mereka yang pernah menempuh pendidikan di pesantren.

“Secara umum kita ada tiga kategori besar. Yang pertama adalah kategori Santri Pelajar, yaitu maksimal berumur 20 tahun. Yang kedua ada kategori Santri Umum, ini di atas 20 tahun, berarti 21 sampai maksimal 30 tahun. Lalu yang terakhir ada kategori Santri Inklusi,” jelas Fadhli.

Pembagian kategori berdasarkan usia tersebut, kata Fadhli, dilakukan agar kompetisi berlangsung lebih proporsional bagi peserta dengan tingkat pengalaman yang berbeda.

“Kami ingin supaya fairness-nya lebih terjaga, dan supaya adik-adik yang masih SMP, yang masih SMA di pesantren juga tidak jiper. Jadi, kami bedakan supaya kita mendorong semua santri di berbagai level untuk ikut serta ke SANFFEST,” ujarnya.

Pada kategori Santri Pelajar terdapat sembilan nominasi, yakni Film Cerita Terbaik, Penyutradaraan Terbaik, Skenario Terbaik, Sinematografi Terbaik, Penata Suara Terbaik, Penata Artistik Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, Pemeran Putera Terbaik, dan Pemeran Puteri Terbaik.

Sementara, kategori Santri Umum memiliki tiga nominasi, yaitu Film Cerita Terbaik Umum, Skenario Terbaik Umum, dan Penyutradaraan Terbaik Umum.

Adapun, kategori Inklusi dibagi menjadi dua, yakni Film Inklusi Disabilitas Terbaik dan Film Inklusi Daerah 3T Terbaik. Untuk kategori disabilitas, peserta dapat berasal dari kalangan dengan disabilitas fisik maupun sensorik.

“Untuk yang inklusi, sekurang-kurangnya satu orang filmmakernya, bisa sutradara, bisa produser, bisa penulis, bisa DOP, bisa macam-macam, itu harus memiliki disabilitas fisik maupun sensorik,” jelas Fadhli.

Sementara, kategori Inklusi Daerah 3T ditujukan bagi peserta yang berasal dari wilayah yang masuk dalam daftar daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal.

Selain kategori utama tersebut, SANFFEST 2026 juga menghadirkan Penghargaan Khusus 20 Poster Terbaik yang terbuka bagi seluruh kategori.

Juri SANFFEST 2026, Niniek L. Karim, menyoroti pentingnya memahami penonton ketika membuat sebuah karya film. Menurutnya, penonton memiliki respons yang berbeda terhadap sebuah tontonan, sehingga pembuat film perlu memperhatikan bagaimana sikap penonton terbentuk ketika menyaksikan karya.

“Everybody is a naive psychologist. Maka kita harus siap bahwa penonton itu adalah naive psychologist. Penonton itu suka atau tidak suka sama tontonan kita, itu tergantung dari attitude-nya, sikapnya,” kata Niniek.

Ia menjelaskan, sikap seseorang dapat melibatkan aspek kognitif, afektif, dan konatif. Ketiga aspek tersebut, menurutnya, turut bekerja ketika seseorang menonton film.

Niniek juga mengaku tertarik dengan tema ‘The Verses in Motion’ yang diusung SANFFEST 2026. Ia melihat, tema tersebut memiliki kaitan dengan nilai dan cara berpikir yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Nah Growthmates, rangkaian SANFFEST 2026 tidak hanya berfokus pada kompetisi. Para peserta juga akan mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk memperluas pengalaman mereka di bidang perfilman, mulai dari jaulah atau kunjungan bersama sineas internasional, proses kurasi dan penjurian, screening karya, hingga Malam Anugerah SANFFEST 2026.

Fadhli mengatakan pendampingan juga menjadi bagian penting dari penyelenggaraan SANFFEST. Menurutnya, peserta tidak sekadar diminta menghasilkan karya, tetapi juga diberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan melalui berbagai program edukasi.

“Tahun lalu SANFFEST menyelenggarakan banyak workshop perfilman online. Jadi, kita tidak cuma mendorong santri bikin-bikin film, tapi begitu saja tidak ada pendampingan. SANFFEST juga memberikan pendampingan,” tuturnya.

Dengan total hadiah mencapai Rp415 juta, SANFFEST 2026 menjadi ruang kompetisi sekaligus wadah pembelajaran bagi santri untuk mengembangkan kemampuan bercerita melalui bahasa sinema. Melalui The Verses in Motion, festival ini membawa gagasan agar nilai-nilai Al-Qur’an dapat hadir dalam karya yang kontekstual, kreatif, dan dekat dengan kehidupan masyarakat hari ini.

Pendaftaran SANFFEST 2026, menurut Fadhli, dibuka hingga 1 November 2026. Informasi lebih lanjut mengenai persyaratan dan ketentuan setiap kategori dapat diperoleh melalui kanal resmi SANFFEST.

Baca Juga: Royco Bawa Kembali Kisah Rangga dan Cinta Lewat Film Pendek AADC 'Bahasa Cinta yang Beda'