Kesadaran masyarakat terhadap program in vitro fertilization (IVF) atau bayi tabung disebut terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan era digital membuat masyarakat kini lebih mudah mengakses informasi terkait program kehamilan, termasuk prosedur IVF yang semakin dikenal luas.
CEO Smart Fertility Clinic, dr. Laura Leandra Setiawan, mengatakan bahwa keterbukaan informasi di era digital turut membantu masyarakat memahami program bayi tabung dengan lebih baik.
“Jadi kalau saya lihat, semakin ke sini sebenarnya kesadaran masyarakat tentunya semakin meningkat. Era digital juga semakin berkembang, jadi mereka juga dengan mudah cari informasi terkait program kehamilan, tentunya IVF juga semakin membantu,” tutur dr. Laura, saat ditemui Olenka, di Primaya Evasari Hospital, Jakarta, belum lama ini.
Meski demikian, dr. Laura mengakui masih ada sebagian masyarakat yang memandang IVF sebagai sesuatu yang tabu.
Menurutnya, masih ada anggapan bahwa program bayi tabung merupakan bentuk rekayasa yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai tertentu.
“Kadang-kadang ada juga yang menganggap itu suatu hal yang tabu. Mereka menganggap bahwa IVF itu suatu rancangan yang bukan dari Tuhan, dan sebagainya,” katanya.
Baca Juga: Smart Fertility Clinic Hadir Jadi Pendamping ‘Pejuang Garis Dua’ di Indonesia
Karena itu, pihaknya terus berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai proses bayi tabung yang sebenarnya dilakukan secara medis tanpa melakukan rekayasa genetika.
“Kita sebisa mungkin terus mengedukasi masyarakat juga terkait dengan hal ini. Bahwa semua prosesnya ini, proses kedokteran tentunya ada. Tapi, tetap Tuhan yang mengembangkan. Kita tidak merekayasa genetika dan sebagainya, itu tidak,” jelas dr. Laura.
dr. Laura menerangkan, perbedaan utama antara proses kehamilan alami dan IVF hanya terletak pada lokasi terjadinya pembuahan.
Jika pada kehamilan alami pembuahan terjadi di organ reproduksi, maka pada program bayi tabung proses penyatuan sel telur dan sperma dilakukan di laboratorium.
“Jadi memang ini proses penyatuan sel telur dan sebagainya itu bedanya hanya di luar. Biasanya kan kita langsung menemukan di organ reproduksi, ini di dalam laboratorium,” ujarnya.
Setelah proses pembuahan berlangsung, perkembangan embrio hingga tahap transfer embrio tetap berlangsung secara alami mengikuti proses biologis tubuh manusia.
“Tetapi setelah itu perkembangan sel telur sampai nanti di embrio transfer, itu semua murni memang proses dari sisi manusianya sendiri,” tutup dr. Laura.
Baca Juga: Program IVF Tidak Instan, Dokter Jelaskan Tahapan hingga Faktor Keberhasilannya