Selain menghindari utang konsumtif, masyarakat juga perlu mulai mengevaluasi pengeluaran. Prita pun menyarankan, agar setiap orang melihat kembali pos-pos belanja yang sebenarnya bisa dihapus atau diganti dengan alternatif yang lebih hemat.
Besarnya penghematan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi pendapatan masing-masing. Jika penghasilan mengalami penurunan, pengeluaran pun harus ikut disesuaikan agar keseimbangan keuangan tetap terjaga.
“Dari yang kita delete atau kita substitusi, kita tuh bisa hemat berapa persen? Berapa persennya tergantung pemasukannya. Jadi kalau pemasukan kamu berkurangnya 20 persen, kamu wajib berhemat 20 persen,” ungkap Prita.
Lebih lanjut, Prita juga mengingatkan bahwa tantangan mengelola keuangan tidak hanya dialami oleh mereka yang penghasilannya menurun. Orang dengan pendapatan yang relatif sama pun bisa merasakan kondisi keuangan semakin sulit, terutama ketika biaya hidup terus meningkat dan sisa penghasilan semakin sedikit.
Situasi tersebut perlu menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali standar hidup. Ketika pengeluaran sudah tidak lagi sebanding dengan kemampuan finansial, mempertahankan gaya hidup lama justru berisiko membuat kondisi keuangan semakin rentan.
Prita menilai, lifestyle downgrade bukan berarti seseorang harus kehilangan seluruh kenyamanan atau berhenti menikmati hidup. Lebih dari itu, penyesuaian gaya hidup diperlukan agar pengeluaran kembali sesuai dengan kemampuan finansial dan kebutuhan saat ini.
“Pada saat jreng dia sadar, akhirnya dia baru ngerti bahwa, ‘Oh my God, emang ternyata aku harus mendowngrade keuangan aku, kalau enggak aku tidak akan bisa survive’,” tutup Prita.
Baca Juga: Financial Planner Ungkap Siapa Sebenarnya Generasi Sandwich, Ternyata Bukan Hanya Anak Muda