Sejak Mei 2025, Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) dan Business for Nature, sebuah koalisi yang terdiri dari lebih dari 100 organisasi mitra berpengaruh, telah bekerja bersama untuk memperkuat kolaborasi antara dunia usaha dan pemerintah seiring Indonesia melangkah menuju ekonomi yang nature-positive.
Kemitraan ini bertujuan mendukung pemerintah dalam pengembangan kerangka kebijakan dan regulasi yang diperlukan untuk memungkinkan aksi bisnis yang efektif, guna berkontribusi pada pencapaian target biodiversitas Indonesia serta tujuan global.
Kemitraan ini merupakan bagian dari inisiatif proyek nasional Business for Nature, yang bekerja di beberapa negara untuk menjembatani kesenjangan antara ambisi global dan realitas nasional. Upaya ini merupakan bagian dari gerakan internasional untuk mendorong kolaborasi bisnis–pemerintah di bidang alam, mendukung pemerintah dalam mengimplementasikan Global Biodiversity Framework (GBF), serta membangun ekonomi yang tangguh dan nature-positive.
Sebagai bagian dari kolaborasi ini, IBCSD menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Keanekaragaman Hayati Indonesia dan Rencana Aksi Bisnis (KIRANAS) pada 20 Januari 2026 di Jakarta. FGD ini menjadi tonggak penting dalam proses co-creation KIRANAS dengan menghimpun masukan terstruktur dari pelaku usaha lintas sektor prioritas untuk menguji, menyempurnakan, dan memvalidasi draf peta jalan dari perspektif implementasi dan investasi.
KIRANAS merupakan dokumen peta jalan implementasi yang dipimpin oleh dunia usaha, yang menerjemahkan komitmen keanekaragaman hayati nasional ke dalam aksi korporasi yang konkret, layak investasi, dan terukur. Draf dokumen ini disusun oleh sektor bisnis dengan masukan dari pemerintah sebagai pembuat kebijakan, guna memastikan keselarasan dengan arah kebijakan nasional.
“Focus Group Discussion KIRANAS merupakan langkah krusial dalam menerjemahkan komitmen biodiversitas Indonesia menjadi aksi nyata yang siap diimplementasikan oleh dunia usaha,” ujar Indah Budiani, Direktur Eksekutif IBCSD.
“Melalui kemitraan dengan Business for Nature, kami membangun peta jalan yang terstruktur agar perusahaan dapat melakukan lebih dari sekadar komitmen, yaitu dengan menyelaraskan strategi korporasi, keputusan investasi, dan praktik operasional dengan prioritas biodiversitas nasional serta kerangka global,” lanjut Indah.
“FGD lintas sektor ini memberikan ruang diskusi yang sangat kaya, di mana kami melihat bahwa meskipun berbagai industri memiliki model tata kelola bisnis yang serupa, setiap sektor menghadapi skala urgensi yang berbeda dalam implementasi biodiversitas. Keberagaman perspektif ini memperkuat penyusunan business plan yang tidak hanya aplikatif secara komersial, tetapi juga responsif terhadap tantangan ekologis di tiap bidang industri,” ujar Trian Purnamasari, Senior Sustainability ESG, Corporate Communication PT Freeport Indonesia, perwakilan perusahaan peserta FGD sekaligus anggota IBCSD.
“KIRANAS akan memberikan panduan praktis dan berorientasi pada aksi bagi dunia usaha untuk mempercepat aksi keanekaragaman hayati dan mengubah ambisi menjadi dampak nyata. Business for Nature bangga dapat bermitra dengan IBCSD dalam upaya yang penting dan mendesak ini,” ujar Pallavi Kalita, Asia Lead Business for Nature, Conservation International APAC.
Menerjemahkan Tujuan Global ke Aksi Nasional Pada tahun 2022, sebanyak 196 negara membuat komitmen bersejarah melalui GBF, sebuah rencana global untuk menghentikan dan membalikkan kehilangan alam pada tahun 2030. Pemerintah tidak dapat mencapai target ini sendirian. Dunia usaha dan lembaga keuangan harus memainkan peran sentral dalam mendorong transisi menuju masa depan yang nature-positive.
Eva Zabey, CEO Business for Nature, menyampaikan, “Global Biodiversity Framework bukan sekadar kesepakatan lingkungan; ini adalah cetak biru ekonomi. Proyek nasional Business for Nature membuktikan bahwa ketika pemerintah menciptakan kerangka kebijakan yang tepat dan dunia usaha mengambil peran dengan strategi nature-positive, kita dapat mencapai target biodiversitas sekaligus pertumbuhan berkelanjutan. Kami tidak meminta perusahaan memilih antara keuntungan dan planet; kami menunjukkan bagaimana perusahaan dapat berhasil karena alam, bukan dengan mengabaikan alam.”
Melalui kemitraan ini, organisasi-organisasi terkait bekerja untuk:
● Menghimpun perusahaan terkemuka dan perwakilan pemerintah melalui Indonesia Business and Biodiversity Platform (IBBP). Difasilitasi oleh IBCSD, IBBP berfungsi sebagai platform kolaboratif bagi sektor swasta, investor, dan pembuat kebijakan
untuk mempercepat aksi menuju ekonomi nature-positive. Sejak awal proyek, IBBP telah menyelenggarakan dialog terstruktur dan diskusi teknis guna mengidentifikasi hambatan serta faktor pendukung dalam memperluas aksi bisnis di bidang alam.
● Mengembangkan KIRANAS, Keanekaragaman Hayati dan Rencana Aksi Bisnis, yang menetapkan arah yang jelas dan praktis bagi dunia usaha untuk berkontribusi pada target biodiversitas dan iklim nasional.
● Membangun kesadaran dan pemahaman bersama lintas sektor kunci melalui konsultasi, lokakarya, dan proses dialog, termasuk Focus Group Discussion KIRANAS.
Upaya-upaya ini akan selaras dengan upaya nasional yang sedang berjalan dan dipimpin oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas serta Kementerian Lingkungan Hidup, untuk mendukung implementasi komitmen biodiversitas dan iklim Indonesia, dengan memastikan ekosistem seperti hutan, air, dan tanah lebih terintegrasi dalam proses pengambilan keputusan.
Menghubungkan Kemajuan Nasional dengan Ambisi Global Inisiatif ini mendukung upaya Indonesia dalam menerjemahkan komitmen biodiversitas global ke dalam aksi nasional yang konkret, sejalan dengan implementasi Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045. IBSAP 2025–2045 menjadi rujukan utama nasional untuk memperkuat tata kelola biodiversitas di tingkat nasional, subnasional, dan global, melalui penguatan instrumen kebijakan, diplomasi lingkungan, koordinasi lintas sektor, peningkatan kapasitas, serta kerja sama para pemangku kepentingan.
Kemitraan ini juga memanfaatkan momentum global pasca COP di Belém, Brasil, di mana integrasi aksi iklim dan alam semakin ditegaskan di tingkat internasional. Dengan memperkuat kolaborasi di tingkat nasional, inisiatif ini membantu menghubungkan komitmen global dengan aksi nyata di lapangan di Indonesia.
Alasan Bisnis Mengintegrasikan Iklim dan Alam Perubahan iklim dan kehilangan alam saling terkait erat. Menangani keduanya secara bersamaan akan membangun ekonomi yang lebih kuat dan tangguh. Bagi dunia usaha di Indonesia, pendekatan ini membantu mengelola risiko, menarik investasi, mendorong inovasi, dan memperkuat daya saing.