Nama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto baru-baru ini disorot tajam setelah bencana besar yang melanda Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh pada akhir 2025 lalu. Sosoknya menjadi perbincangan publik lantaran dinilai lamban dalam penanganan bencana alam yang merenggut ribuan korban jiwa itu.
Terlepas dari polemik penanganan bencana alam itu, Suharyanto merupakan salah satu sosok yang sukses meniti karier gemilang, sejak belia Suharyanto telah digembleng dalam didikan militer. Pria kelahiran Cimahi Jawa Barat 8 September 1967 itu menuntaskan studi di Akademi Militer pada 1989.
Sepanjang hidupnya, Suharyanto memang lazim dengan dunia militer, maklum saja ayahnya adalah seorang personel TNI AD yang membuat Suharyanto menghabiskan sebagian masa kecilnya dihabiskan di lingkungan asrama tentara yang terkenal disiplin. Dari sini pula Suharyanto tumbuh besar dengan cita-cita ingin menjadi seorang tentara.
1985 Cita-cita benar-benar dikejar Suharyanto dengan masuk ke Akmil Magelang, ia diterima di kampus tersebut dan menuntaskan studinya selama empat tahun, setelah lulus ia diberi pangkat letnan dua.
Kesatuan Infanteri Kalimantan menjadi tempat pertama Suharyanto memulai karier TNI. Di kesatuan ini ia bertugas hampir satu dekade. Suharyanto diketahui mengabdikan diri di sana sekitar sembilan tahun.
Di Kesatuan Infanteri Kalimantan, Suharyanto punya banyak cerita penugasan salah satunya adalah penugasan dalam operasi Timor-Timur sebelum referendum yang membuat provinsi paling bontot Indonesia itu memisahkan diri dari Indonesia.
Sepulang dari Timor-Timur, Suharyanto melanjutkan pendidikannya ke sekolah perwira di Bandung, Jawa Barat. Cerita Suharyanto selama periode sekolah perwira 1999 tak banyak diketahui orang.
Namanya kembali muncul pada 2003 setelah ditugaskan ke Jawa Timur. Ia bertugas selama tujuh tahun dan menduduki sederet posisi strategis seperti: Pabandya Ops Sopsdam V/Brawijaya (2003–2004), Danyonif 516/Caraka Yudha (2004–2005), Danyonif 500/Raider (2005–2006), Dandim 0832/Surabaya Selatan (2006), dan Dandim 0817/Gresik (2009–2010). Dari Gresik ia ditarik ke Mabes AD sebagai staff pengamanan Angkatan Darat (2010–2011).
Suharyanto kemudian ditarik ke Sekretaris Militer Presiden (Setmilpres) pada 2012, di sana ia mengemban tugas sebagai kepala bagian pembinaan personel lalu dipindah ke bagian kepala penelitian dan pengamanan khusus.
Tiga tahun setelahnya, Suharyanto mulai mengemban sejumlah jabatan penting, pada periode 2015-2016 ia dipercayakan mengemban jabatan Kasi Intel Korem 081/Dhirotsaha Jaya, Danrem 051/Wijayakarta.
Setelahnya pada 2016-2017 ia dipercayakan menjabat Kepala Biro Kepegawaian Settama Badan Intelijen Negara (BIN) dan pindah jabatan lagi setelah setahun, kali ini menjadi Direktur Kontra Separatisme Deputi III BIN pada periode 2017–2018.
Selanjutnya pada 2018-2019 ia menjabat Kasdam Jaya dengan pangkat Brigadir Jenderal dipercaya menjabat Kasdam Jaya. Lalu pada 2019–2020 ia menjabat Sekretaris Militer Kemensetneg RI dan naik pangkat menjadi Mayor Jenderal dan dipromosikan menjabat Panglima Kodam V Brawijaya pada 2020–2021.
Pada 2021 Suharyanto ditunjuk sebagai Kepala BNPB pada 17 November 2021 oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia ditunjuk menggantikan Letjen Ganip Warsito yang memasuki masa pesiun. Berselang beberapa pekan, bintang dipundak Suharyanto bertambah satu menjadi bintang tiga alias Letnan Jenderal (Letjen).