Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto membuat banyak pihak mulai khawatir terhadap masa depan ekonomi Indonesia. Berbagai upaya tenga dilakukan pemerintah namun belum berdampak signifikan.

Anjloknya rupiah hingga Rp18.000 per dolar menimbulkan kepanikan sebab kondisi itu pernah terjadi pada era Presiden Soeharto tahun 1998 yang memicu krisis moneter yang nyaris meruntuhkan ekonomi Indonesia. 

Baca Juga: Mantan Menkeu Fuad Bawazier Soroti Isu Reshuffle Purbaya

Banyak pihak khawatir tragedi ekonomi di masa lampau kembali terulang di pemerintahan sekarang.

Terkait kondisi ekonomi Indonesia sekarang ini, Mantan Menteri Keuangan era Presiden Soeharto, Fuad Bawazier meminta masyarakat tetap tenang dan menyerahkan penanganan sepenuhnya kepada pemerintah. 

Ia yakin kebijakan-kebijakan yang dilakukan belakangan dapat mengerek rupiah yang sedang tersungkur. Dia mengatakan kondisi ekonomi masa kini tak bisa dibandingkan dengan krisis 1998. Ekonomi Indonesia saat ini kata dia jauh lebih baik dibanding krisis masa lampau. 

Saat ini pertumbuhan ekonomi tetap berada di zona positif. Salah satu indikator utama yang membedakan kondisi saat ini dengan krisis 1998 adalah pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Saat krisis moneter 1998, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi yang sangat dalam sehingga pertumbuhan ekonomi tercatat negatif.

“Kalau dibanding 1998 ya beda. Kalau 1998 itu pertumbuhan PDB sudah minus. Pertumbuhannya sampai minus 13%.Sekarang kan masih plus, sekitar 5% lebih. Pokoknya masih positif,” kata Fuad ditulis Jumat (12/6/2026).

Tren pertumbuhan ekonomi yang tetap positif di tengah tekanan dan gejolak global kata Fuad menjadi salah satu bukti bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibanding kondisi 1998.

‘Kalau dahulu itu sudah negatif sampai dua tahun. Jadi memang dari situ saja sudah sangat berbeda,” katanya.

Meski demikian, Fuad mengingatkan pemerintah tetap perlu mewaspadai berbagai tekanan eksternal yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional, termasuk gejolak geopolitik global dan pergerakan harga komoditas dunia.

Baca Juga: Soal Hitung-Hitungan Pemangkasan Anggaran MBG, Purbaya Serahkan ke Sosok Ini

“Yang penting sekarang ekonomi masih tumbuh dan tetap positif. Itu yang membedakan dengan kondisi krisis 1998,” pungkasnya.