PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan domestik masih menghadapi tekanan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 8,69% sepanjang periode 2–5 Juni 2026, sementara pada sesi pertama perdagangan Senin (8/6), IHSG kembali melemah 2,87% ke level 5.434.
Tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham. Nilai tukar rupiah terus bergerak mendekati level terlemah terhadap dolar AS, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun meningkat ke kisaran 7,27%. Kenaikan yield tersebut mencerminkan tingginya risk premium yang diminta investor di tengah kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian.
Baca Juga: Mirae Asset Sekuritas: Koreksi Pasar Bisa Jadi Peluang Investasi
Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan bahwa kenaikan imbal hasil SBN juga dipengaruhi oleh koordinasi kebijakan antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan yang bertujuan meningkatkan daya tarik aset domestik bagi investor asing.
"Kenaikan imbal hasil ini merupakan bagian dari upaya koordinasi BI dan Kemenkeu untuk meningkatkan daya tarik carry rupiah bagi investor portofolio asing. Namun, dampaknya terhadap rupiah masih terbatas dan memang tidak realistis untuk diharapkan bekerja hanya dalam waktu singkat," ujar Rully dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Menurut Rully, efektivitas kebijakan tersebut masih dibayangi oleh tekanan global yang cukup kuat. Salah satu faktor utama berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat akan bertahan pada level tinggi lebih lama dari perkiraan pasar.
Kondisi tersebut mendorong investor global untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman. Akibatnya, tekanan tidak hanya dirasakan oleh pasar saham Indonesia, tetapi juga tercermin pada pelemahan rupiah dan meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, Rully menilai Indonesia juga perlu memperkuat komunikasi kebijakan untuk membantu menurunkan risk premium yang telah meningkat signifikan dalam beberapa waktu terakhir. "Indonesia masih perlu memperkuat komunikasi kebijakan untuk mengurangi risk premium yang sudah naik signifikan. Jika risk premium tidak berhasil diturunkan, tekanan terhadap valuasi IHSG berpotensi berlanjut ke depan," jelasnya.
Ke depan, pergerakan pasar domestik masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan sentimen global, stabilitas nilai tukar rupiah, serta kemampuan otoritas dalam menjaga kepercayaan investor. Penurunan risk premium dan stabilisasi rupiah akan menjadi faktor penting yang dapat membuka ruang pemulihan bagi pasar saham Indonesia dalam beberapa waktu mendatang.