Saiful Mujani menambahkan vonis yang lebih spesifik terkait pemilu. "Legitimasi pemilu adalah segala-galanya bagi bangunan sebuah republik. Jika pemilu cacat, maka pemerintahan di dalamnya tidak memiliki legitimasi." Pemilu 2024, katanya, adalah yang terburuk sejak reformasi 1999.
Gita Wirjawan menutup dengan perspektif global. Di tengah dunia yang semakin multipolar, Indonesia tidak akan punya kapasitas bermanuver jika kualitas kognisi bangsanya tidak diperbaiki.
Dari 10.000 kampus di Asia Tenggara, hampir separuhnya di Indonesia hanya dua yang masuk 20 besar dunia, keduanya di Singapura. Hanya 22 persen mahasiswa Indonesia yang masuk STEM, jauh di bawah Malaysia 43 persen.
"Kemampuan manuver geopolitik tidak akan terjadi jika rata-rata IQ bangsa masih berada di angka 78, Indonesia baru benar-benar layak berbangga diri jika negara sudah berhasil menghadirkan layanan dan barang publik yang berkualitas tinggi bagi seluruh rakyatnya" kata Gita.
Jaleswari menutup bahwa apa yang lahir di Yogyakarta tidak akan berhenti di sini. "Ini akan ditindaklanjuti, disosialisasikan, dan ditularkan dari kota ke kota, bahkan hingga ke partai politik," katanya. Menurut Jaleswari, diagnosis tanpa solusi adalah pengkhianatan terhadap diagnosis itu sendiri.