Perkembangan AI, transformasi digital yang semakin cepat, hingga meningkatnya tuntutan terhadap praktik bisnis yang berkelanjutan telah mengubah cara perusahaan mencari talenta. Jika sebelumnya kemampuan teknis menjadi modal utama, kini dunia kerja semakin membutuhkan generasi muda yang mampu berpikir kritis, berkolaborasi lintas disiplin, serta menciptakan solusi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Topik ini menjadi salah satu pembahasan utama dalam forum "Beyond Profit: Creating Impactful Innovation", bagian dari rangkaian Road to Permata INSPIRE yang diselenggarakan Permata Bank di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (02/07). Menghadirkan perspektif dari akademisi, industri, dan sektor perbankan, forum ini mengajak mahasiswa memahami bahwa kesuksesan di masa depan tidak lagi hanya diukur dari keuntungan yang dihasilkan, tetapi juga dari nilai yang mampu diciptakan bagi lingkungan dan masyarakat.
Professor School of Business and Social Innovation Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Prof. Rosdiana Sijabat, melihat, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mempersiapkan lulusan menghadapi lanskap dunia kerja yang terus berubah. Menurutnya, selain menguasai teknologi, mahasiswa perlu membangun kemampuan berpikir berbasis solusi, memahami isu keberlanjutan, serta memiliki integritas dan kemampuan berkolaborasi.
"Future advantage is not just about profit, but the ability to create responsible impacts."
Pesan tersebut menegaskan bahwa keunggulan generasi masa depan tidak lagi ditentukan semata oleh kemampuan menciptakan keuntungan, melainkan oleh kapasitas menghadirkan inovasi yang bertanggung jawab dan memberi manfaat bagi banyak pihak. Perspektif serupa juga disampaikan M. Fahmi Rachmattulah, Director of Strategy & Corporate Development PT Fore Kopi Indonesia Tbk. Menurutnya, di tengah pesatnya perkembangan AI dan otomatisasi, justru kemampuan memahami kebutuhan manusia menjadi pembeda yang sulit tergantikan.
Dia membagikan tiga prinsip yang perlu dipegang generasi muda dalam membangun inovasi yang berkelanjutan. Pertama, mulailah dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, bukan sekadar menciptakan solusi yang terlihat menarik. Kedua, jangan mempertentangkan profit dan dampak sosial karena bisnis yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat justru memiliki peluang bertumbuh lebih berkelanjutan. Ketiga, investasikan pada manusia sebelum sistem sebab teknologi hanya akan memberikan dampak maksimal ketika dikembangkan untuk menyelesaikan persoalan yang benar-benar relevan.
Melinda Hoesain, Division Head Corporate Relation & CSER Permata Bank, mengatakan bahwa perubahan kebutuhan dunia kerja menuntut kolaborasi yang lebih erat antara dunia pendidikan dan industri. "Kami percaya mahasiswa perlu mendapatkan ruang untuk berdialog langsung dengan praktisi agar memahami tantangan nyata yang dihadapi dunia usaha saat ini. Melalui Road to Permata INSPIRE, kami ingin mempertemukan perspektif akademisi, pelaku industri, dan generasi muda sehingga lahir lebih banyak ide serta inovasi yang tidak hanya relevan bagi bisnis, tetapi juga mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat," ujar Melinda.
Forum "Beyond Profit: Creating Impactful Innovation" merupakan bagian dari rangkaian Road to Permata INSPIRE, yang sebelumnya juga hadir di Universitas Multimedia Nusantara melalui forum bertema "ESG for Tomorrow Leaders". Hingga saat ini, rangkaian kegiatan tersebut telah menjangkau lebih dari 200 mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dan menjadi ruang kolaborasi bagi kampus, industri, serta komunitas dalam membangun ekosistem inovasi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Melalui Road to Permata INSPIRE, Permata Bank berharap semakin banyak generasi muda yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang menghadirkan solusi atas berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan di masa depan.