Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) periode 2011–2014, Dahlan Iskan, pernah berada di titik terendah dalam hidupnya saat didiagnosis menderita kanker hati stadium IV pada 2007. Kondisi kesehatannya saat itu sangat kritis, bahkan dokter memvonis usia hidupnya tinggal beberapa bulan.
Dahlan pun mengenang bagaimana penyakit tersebut menyerang tubuhnya dengan cepat. Hatinya dipenuhi sel kanker hingga menyebabkan pembengkakan tubuh yang parah.
Menurutnya, dokter saat itu tidak memberi banyak harapan.
"Saya baru saja kena kanker, kanker hati. Hati saya penuh dengan kanker, sudah stadium 4. Badan saya sudah bengkak. Dan dokter mengatakan hidup saya tinggal 6 bulan," tutur Dahlan Iskan, dalam sebuah video sebagaimana dikutip Olenka, Senin (2/2/2026).
Meski menghadapi kenyataan pahit, Dahlan Iskan memilih untuk tetap berusaha mencari peluang hidup. Ia meyakini manusia tetap harus berikhtiar dalam kondisi seberat apa pun.
"Kemudian, karena Tuhan mengharuskan kita berikhtiar, maka saya berikhtiar. Dengan cara, setelah pilihan-pilihan, dan gak ada semua yang bisa mempertahankan hidup, maka saya harus ganti hati," bebernya.
Pilihan transplantasi hati pun membawanya ke Tiongkok. Namun, perjuangan tersebut tidak mudah. Ia harus menunggu donor organ yang cocok, sementara waktu hidupnya semakin menipis.
"Saya pergi ke Tiongkok, saya antri untuk bisa ganti hati. Kebetulan antri, ada orang mati, hatinya tidak cocok untuk saya. Ada lagi orang mati, hatinya ada penyakit juga, gak cocok juga untuk saya," kenangnya.
Ia pun mengatakan, penantiannya berlangsung selama empat bulan. Di saat harapan hampir habis, akhirnya datang kabar adanya donor yang cocok. Organ tersebut berasal dari seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun.
"Setelah antri 4 bulan, berarti hidup saya sepertinya tinggal 2 bulan, ada anak muda mati. Saya tidak tahu kenapa, dirahasiakan. Umurnya 20 tahun. Hatinya sangat baik. Baik itu maksudnya tidak ada penyakit, ya sehat lah," katanya.
Baca Juga: Dahlan Iskan: IPK Bukan Penentu Karier
Dikatakan Dahlan, hati donor tersebut dinyatakan cocok dengan kondisi tubuhnya. Operasi pun segera dilakukan.
Hati lamanya yang sudah dipenuhi kanker diangkat dan diganti dengan organ baru tersebut. Setelah operasi, ia harus berbaring tanpa bergerak selama 24 jam penuh.
Keesokan harinya menjadi momen yang sangat menentukan. Ia membuka mata dengan rasa syukur karena masih hidup.
"Dan besok paginya setelah 24 jam, saya membuka mata, alhamdulillah saya hidup," ujar Dahlan.
Namun, dokter tetap mengingatkan bahwa masa kritis belum sepenuhnya terlewati. Risiko kegagalan transplantasi masih sangat besar pada hari-hari pertama.
"Tapi dokter mengingatkan, Pak Dahlan jangan senang dulu, karena mungkin hidup ini hanya untuk 24 jam, atau hanya untuk 3 kali 24 jam, atau untuk seminggu. Setelah itu gagal, dan kemudian meninggal dunia. Ya tidak apa-apa," tuturnya.
Namun, takdir berkata lain. Operasi tersebut justru menjadi titik balik kehidupannya. Kini, lebih dari satu setengah dekade telah berlalu sejak operasi itu dilakukan, dan Dahlan Iskan masih menjalani kehidupan secara aktif.
"Ternyata sampai sekarang hidup sudah 17 tahun yang lalu," pungkasnya.
Baca Juga: Dari Dahlan Iskan untuk Generasi Muda: Jangan Lembek, Kita Harus Tangguh