Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) periode 2011–2014, Dahlan Iskan, menegaskan bahwa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) memiliki peran terbatas dalam dunia kerja.
Menurut pria kelahiran 17 Agustus 1951 itu, IPK hanya relevan pada tahap awal, yakni saat proses seleksi masuk, dan bukan penentu keberhasilan karier dalam jangka panjang.
Dahlan mengatakan, IPK kerap digunakan sebagai indikator awal untuk menilai kapasitas berpikir seseorang. Namun, fungsinya berhenti sampai di sana.
“Mungkin IP kita lihat ketika seleksi masuk. Ketika seleksi masuk kita lihat IP-nya. Karena IP yang tinggi menandakan kapasitas berpikirnya besar. Cuma itu aja,” papar Dahlan, dalam sebuah video, sebagaimana dikutip Olenka, Selasa (27/1/2026).
Mantan Direktur utama surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group itu menambahkan, IPK yang tinggi menunjukkan kapasitas otak yang lebih besar dalam menerima dan mengolah informasi baru, terutama di fase awal seseorang bergabung dalam sebuah institusi atau perusahaan.
“IP yang tinggi menandakan kapasitas otaknya lebih besar. Sehingga siap untuk menerima sesuatu yang baru dalam jumlah yang lebih besar dibanding yang IP-nya tidak tinggi,” lanjutnya.
Baca Juga: Cerita Dahlan Iskan Bekerja 16 Jam/Hari, Tak Ada Hari Sabtu, Tak Ada Hari Minggu