Menteri Badan Usaha Milik Negara periode 2011–2014, Dahlan Iskan berpandangan bahwa bisnis tidak semata-mata didorong oleh bakat alamiah, ada faktor lain yang turut memengaruhi dan turut mendorong seseorang untuk terjun ke dunia entrepreneur.

Menurut Dahlan Iskan, apabila bisnis dan entrepreneur itu hanya dipengaruhi faktor tunggal dari bakat alamiah yang dibawa sejak lahir, maka dirinya mustahil terjun ke sana, sebab dirinya datang dari keluarga buruh tani tanpa adanya DNA bisnis. Kesimpulannya dorongan berbisnis bisa datang dari lingkungan sekitar, hal ini kata dia bisa ditularkan dari orang-orang di sekitar. 

Baca Juga: Dahlan Iskan: IPK Bukan Penentu Karier

“Apakah bisnis itu bakat? sehingga anda merasa tidak berbakat. Saya lama merenungkan ini. Dan saya adalah anaknya buruh tani. Tukang kayu juga, serabutan tapi kok bisa ya? Dan banyak kasus saya pelajari, banyak juga yang tidak ada hubungannya dengan bisnis, tapi berbisnis. Sehingga kesimpulan saya, bisnis itu bisa ditularkan,” kata Dahlan Iskan dilansir Olenka.id Rabu (28/1/2026). 

Untuk menularkan bakat berbisnis kata Dahlan Iskan jelas butuh proses, mereka yang hidup di lingkungan orang-orang yang sudah bergelut di dunia usaha bakal mengikuti hal ini sekalipun mereka tak punya bakat alamiah. 

Ia memisalkan anak-anak keturunan Tionghoa yang mayoritas menjadi pebisnis andal di masa mendatang, itu terjadi  karena lingkungan sekitarnya, mereka hidup di tengah keluarga yang sudah bertahun-tahun menggeluti bisnis, demikian juga dengan kehidupan mereka di luar rumah yang juga kerap bersama orang-orang yang datang dari keluarga yang memang telah lama berbisnis. 

“Jadi ada proses penularan, bukan bakat. Ada proses penularan. Misalnya, kenapa anak-anaknya orang Tionghoa yang pengusaha itu menjadi pengusaha? Pengamatan saya, bukan karena dia darah Tionghoanya, bukan karena dia bakat, karena orang darah Tionghoa dia bakat, tidak,” ujarnya. 

“Tapi karena ketularan. Proses yang disebut penularan itu tentu ada orang mudah ketularan, ada orang sulit ketularan, ada orang yang tidak bisa ketularan. Kan begitu kan, proses penularan itu. Tetapi proses penularan ini akan intensif kalau ada yang menulari dan ada yang ditulari. Nah, dalam keluarga Tionghoa, kesimpulan saya, proses penularan itu bukan sepenuh hati lagi. Sudah dalam istilah orang pesantren, kafa. Jadi sempurna sekali,” ujarnya. 

Proses penularan bakat berbisnis dalam keluarga Tionghoa kata dia biasanya sukses, jarang terjadi kegagalan, pasalnya anak-anak Tionghoa telah dibentuk sejak dini menjadi pengusaha. 

“Misalnya makan siang yang dibicarakan juga bisnis. Makan pagi yang dibicarakan juga bisnis. Dan bukan hanya itu. Ketika si anak ini pulang sekolah, misalnya ini bapaknya punya toko. Si anak ini pulang sekolah, pulangnya kan ke toko. Bukan ke rumah,” ucapnya. 

“Ketika pulang ke toko ini, suatu saat pembelinya banyak. Mau tidak mau dia dengar, ini apa. Mau tidak mau kadang-kadang dia disuruh orang tuanya ambilkan barang tempatnya di sana. Karena pembelinya banyak. Bahkan kadang-kadang orang tuanya enggak ada, dia yang melayani. Ini enggak ada proses penularan lebih intensif dari ini,” ucapnya. 

Menurut Dahlan Iskan, semua orang bisa berbisnis dan terjun ke dunia usaha, ketika ada individu yang merasa kurang kompeten dalam dunia usaha, bukan berarti mereka tidak berbakat, tetapi lingkungannya yang tak mendukung.  

Baca Juga: Dahlan Iskan Bicara Soal Mentalitas Sungguh-Sungguh

“Bahwa Anda merasa tidak berbakat, mungkin pergaulan Anda kurang dengan orang-orang yang sehari-hari melakukan bisnis,” pungkasnya.