Dalam konteks pencegahan, dr. Sukamto mengakui bahwa langkah-langkah seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak tetap penting. Namun, dalam praktik kehidupan sehari-hari, tidak semua orang dapat terus menghindari kerumunan atau membatasi mobilitas.

Oleh karena itu, lanjut dia, vaksinasi menjadi solusi yang paling realistis dan efektif. Ia mengibaratkan vaksin influenza seperti sabuk pengaman dalam mobil.

“Tidak menjamin Anda tidak akan kecelakaan, tapi kalau kecelakaan terjadi dampaknya jauh lebih ringan,” katanya.

Menurutnya, vaksin influenza memang tidak selalu mencegah seseorang tertular sepenuhnya, tetapi sangat efektif dalam mencegah kondisi yang lebih berat, komplikasi, hingga kematian. Karena itulah WHO menempatkan vaksinasi influenza tahunan sebagai tindakan pencegahan utama, bukan sekadar pelengkap.

dr. Sukamto mengatakan, perkembangan terbaru di dunia medis juga menunjukkan bahwa vaksin influenza kini semakin diakui sebagai bagian dari terapi penyakit kronis.

Dalam pedoman internasional, termasuk dari American Heart Association, vaksin influenza telah dimasukkan sebagai bagian dari penanganan pasien dengan penyakit jantung, bukan lagi sekadar pilihan tambahan.

Hal serupa juga mulai diterapkan dalam bidang endokrinologi, di mana vaksinasi menjadi bagian integral dalam tata laksana pasien dengan penyakit metabolik seperti diabetes.

Terkait efektivitas dan keamanan, dr. Sukamto menegaskan bahwa vaksin trivalent dan quadrivalent memiliki tingkat kemanjuran yang setara. Studi menunjukkan bahwa respons imun yang dihasilkan tidak berbeda signifikan.

Dari sisi keamanan, efek samping yang ditimbulkan juga tergolong ringan dan sebanding dengan suntikan placebo. Ia menekankan bahwa tidak ada bukti hubungan vaksin influenza dengan efek samping serius seperti kematian atau penyakit berat lainnya.

dr. Sukamto juga mengingatkan bahwa efektivitas vaksin tidak ditentukan oleh banyaknya jumlah galur yang terkandung, melainkan ketepatan terhadap virus yang sedang beredar.

“Vaksin yang efektif bukan isinya yang paling banyak, tapi yang paling tepat sasaran,” jelasnya.

Ia mengibaratkan penggunaan galur yang sudah tidak beredar seperti ‘memasang kunci untuk pintu yang sudah tidak ada’ yang tidak memberikan perlindungan tambahan.

Di akhir pemaparannya, dr. Sukamto menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan lagi pada jenis vaksin yang digunakan, melainkan pada rendahnya cakupan vaksinasi di masyarakat.  Ia pun mengajak semua pihak, termasuk media dan masyarakat umum, untuk lebih aktif dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya vaksin influenza.

“Yang harus jadi fokus kita bukan galur dalam vaksin, tapi seberapa banyak masyarakat Indonesia yang sudah divaksin,” pungkasnya.

Baca Juga: Profil Bernadette Ruth Irawati Setiady, Presiden Direktur Kalbe Farma