Hestu juga mengingatkan bahwa masyarakat perlu lebih waspada terhadap normalisasi tekanan sosial, terutama yang berkaitan dengan pinjaman online.

“Ini jadi PR kita bersama supaya tidak menormalisasi hal-hal seperti itu, baik sebagai korban maupun bagian dari sistem. Kami ingin memperlihatkan bahwa teror sesungguhnya dimulai ketika manusia kehilangan kendali atas dirinya sendiri demi memuaskan gaya hidup dan validasi diri oleh lingkungan sekitar,” lanjut Hestu.

Hestu bahkan menyebut proses produksi film ini sebagai perjuangan totalitas.

“Setiap film saya selalu tumbuh. Kita di sini totalitas, kita benar-benar ‘perang’ untuk film ini," tukasnya.

Di sisi lain, pengalaman mendalami karakter juga dirasakan secara personal oleh para pemainnya. Hana Saraswati mengungkapkan bahwa tema film ini sangat relevan dengan kehidupan generasi saat ini.

“Kita kadang mengorbankan ketenangan batin untuk sesuatu yang sebenarnya nggak penting,” ujar Hana.

Hana pun berharap, film ini bisa menjadi pengingat bagi penonton agar tidak terjebak dalam tekanan sosial yang tidak sehat.

Menariknya, Hana juga mengaku mengalami perubahan setelah menjalani salah satu adegan ritual dalam film tersebut.

“Setelah itu aku jadi jauh lebih sensitif terhadap hal-hal mistis, padahal sebelumnya nggak,” ungkapnya.

Nah Growthmates, dengan balutan cerita yang memadukan teror supranatural dan realitas sosial, film 'Aku Harus Mati' menghadirkan pengalaman horor yang berbeda, bukan hanya menegangkan, tetapi juga menyentil kesadaran penonton tentang bahaya ambisi dan obsesi terhadap pengakuan.

Film ini seolah mengingatkan bahwa teror paling menakutkan bukan hanya datang dari dunia lain, melainkan juga dari pilihan manusia itu sendiri.

Baca Juga: Film Esok Tanpa Ibu: Dilema Kehilangan, Mungkinkah AI Menggantikan Kehangatan Seorang Ibu?