Mengapa Bisa Menyerang Saraf Otak?

Lebih lanjut, dr. Ferry juga menanggapi laporan mengenai korban yang mengalami gangguan pada sistem saraf, termasuk amnesia. Menurutnya, kondisi tersebut jauh lebih kompleks dan tidak dapat langsung disimpulkan hanya berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium yang tersedia.

“Sebenarnya sangat complex ya. Kemungkinannya banyak, dan karena saya tidak memeriksa pasien secara langsung, saya coba bahas kemungkinan yang terjadi ya,” tulisnya.

Ia mengingatkan bahwa panel pemeriksaan laboratorium yang tersedia hanya mendeteksi beberapa jenis bakteri, yakni Salmonella, E. coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus. Sementara itu, kejadian keracunan massal dapat disebabkan oleh berbagai agen lain.

“Panel pemeriksaan pada hasil lab di atas hanya mencari beberapa bakteri: Salmonella, E. coli, Staphylococcus aureus, Bacillus cereus,” jelas dr. Ferry.

“Sementara keracunan massal juga dapat disebabkan oleh virus, bakteri lain, parasite, toksin, kontaminasi kimia, pestisida, logam,” lanjutnya.

Karena itu, menurut dr. Ferry, munculnya gangguan pada sistem saraf perlu dievaluasi lebih mendalam. Salah satu kemungkinan yang perlu diperiksa adalah terjadinya syok atau sepsis yang dapat memengaruhi fungsi organ, termasuk sistem saraf.

“Untuk infeksi saraf otak, perlu diperiksa kembali kemungkinan adanya syok/sepsis,” katanya.

Minta Evaluasi Serius Program MBG

Dan, di tengah berbagai temuan dan laporan kondisi korban tersebut, dr. Ferry berharap, Badan Gizi Nasional (BGN) segera melakukan evaluasi secara serius terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya terkait keamanan pangan dan standar dapur.

“Semoga BGN segera menindak dan mengevaluasi serius program ini. Satu kasus keracunan sudah terlalu banyak,” tegasnya.

“Saya berharap tidak ada lagi kasus seperti ini. Anak-anak adalah mutiara hati setiap orang tuanya,” lanjut dr. Ferry.

Sambil menunggu proses evaluasi, dr. Ferry juga mengingatkan orang tua untuk memberikan edukasi sederhana kepada anak-anak mengenai keamanan makanan. Ia menyarankan anak selalu mencuci tangan sebelum makan dan tidak mengonsumsi makanan yang sudah berbau atau memiliki rasa yang tidak normal.

“Untuk ibu-ibu dan orang tua yang khawatir, sembari kita menunggu evaluasi dari BGN, jangan lupa ingatkan anak-anaknya untuk senantiasa mencuci tangan sebelum makan dan jangan makan makanan yang sudah berbau/rasa sudah aneh,” tulisnya.

Ia pun kembali mendorong adanya perbaikan terhadap standar pengelolaan makanan dan dapur dalam pelaksanaan program MBG.

“Sembari kita terus berdoa agar program ini dan standar dapur bisa segera dievaluasi. Berbenahlah,” pungkas dr. Ferry.

Baca Juga: Mahfud MD Endus Unsur Kesengajaan dalam Kasus Keracunan, MBG Sudah Disabotase?