Keputihan yang terus berulang meski sudah berobat ke berbagai dokter sering kali membuat bingung dan cemas. Apalagi ketika diagnosis mengarah pada infeksi jamur Candida dan muncul kecurigaan adanya penularan dari pasangan. Dalam kondisi seperti ini, masalah yang terjadi bisa jadi lebih kompleks dari sekadar infeksi jamur biasa.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik, Prof. Dr. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM, FINASIM., menjelaskan bahwa keputihan yang tidak kunjung sembuh perlu dilihat secara menyeluruh, terutama jika berkaitan dengan infeksi menular seksual (IMS).

Menurut Prof. Zubairi, ketika jamur diduga ditularkan melalui hubungan seksual, maka kondisi tersebut masuk dalam kategori infeksi menular seksual yang kemungkinan melibatkan lebih dari satu jenis penyakit.

“Menurut dokter kandungan dan dokter kulit kelamin, karena jamur yang ditularkan melalui hubungan seksual, maka ini termasuk infeksi menular seksual. Jadi penyakitnya bisa banyak dan harus diobati semuanya sekaligus,” jelas Prof. Zubairi, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Selasa (24/3/2026).

Prof. Zubairi menegaskan bahwa pengobatan yang hanya berfokus pada jamur tidak akan cukup jika ada infeksi lain yang menyertai. Inilah yang sering menyebabkan keluhan terus muncul kembali meskipun sudah menjalani terapi berulang kali.

“Tidak bisa hanya diobati jamurnya saja, nanti muncul lagi. Jadi perlu diketahui dengan pasti penyebabnya, dan ada tidak penyakit IMS lain,” lanjut Prof. Zubairi.

Dalam praktiknya, kata Prof. Zubairi, kondisi seperti ini perlu ditelusuri lebih dalam melalui pemeriksaan yang lebih lengkap.

Menurutnya, beberapa penyakit infeksi menular seksual lain bisa memiliki gejala serupa atau muncul bersamaan, sehingga penting untuk memastikan apakah ada infeksi tambahan yang belum terdeteksi.

“Perlu dipastikan, ada tidak gonore, ada tidak sifilis, ada tidak HIV. Itu penting sekali,” tegasnya.

Baca Juga: Usai Lebaran Jangan Abaikan Kesehatan, Ini Pesan Dokter Ahli

Menurut Prof. Zubairi, langkah terpenting adalah memastikan diagnosis secara akurat sebelum menentukan pengobatan.

Tanpa mengetahui penyebab secara pasti, terapi yang diberikan berisiko tidak efektif dalam jangka panjang.

“Yang penting perlu dipastikan dulu penyakitnya apa. Pertama, benar tidak jamur. Kedua, apakah ada tambahan penyakit lain,” ujarnya.

Kabar baiknya, Prof. Zubairi memastikan bahwa berbagai kondisi ini pada dasarnya bisa diobati dengan hasil yang baik jika ditangani dengan tepat dan menyeluruh.

“Semuanya itu sekarang bisa diobati dengan kesembuhan yang bagus,” katanya.

Selain aspek medis, lanjut Prof. Zubairi, faktor hubungan dengan pasangan juga memegang peran penting dalam proses penyembuhan.

Menurutnya, keterbukaan antara suami dan istri menjadi kunci untuk mencegah penularan ulang yang bisa memperparah kondisi.

“Suami istri itu harus terbuka. Tanyakan pada suami mengenai hubungan seksual di luar. Kalau masih ada risiko, maka setiap hubungan harus memakai kondom,” pungkas Prof. Zubairi.

Baca Juga: Kasus Campak Melonjak, Dokter Soroti Ancaman Gerakan Anti-Vaksin di Indonesia