Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) baru-baru ini mengklaim Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang dibesut putranya Kaesang Pangarep mulai bikin ketar-ketir banyak pihak. PSI disebutnya membuat banyak pihak ketakutan dalam persaingan di Pemilu 2029 mendatang kendati PSI baru seumur jagung. 

Pernyataan itu direspons bergam, banyak yang sepakat mengingat Jokowi sudah secara resmi menjadi kader PSI yang tentu saja dapat mengubah PSI menjadi sebuah kekuatan politik yang maha dahsyat pada Pemilu mendatang. Namun ada pula yang justru menganggap itu sebagai lelucon. PSI tetap dianggap  sebagai partai gurem yang tak bisa banyak bicara di Pemilu nanti. 

Baca Juga: Politik Main Aman Ala Dedi Mulyadi: Tak Mau Buru-buru Tinggalkan Gerindra demi PSI

Beberapa hari setelah Jokowi melontarkan klaim tersebut, Poltracking Indonesia merilis hasil survei yang mengungkap posisi PSI yang justru terkubur di papan bawah peringkat elektoral partai yang berpeluang menjadi peserta Pemilu 2029.

Elektabilitas PSI mentok di angka 2,3 persen bersaing dengan PPP yang berada di angka 1,9 persen disusul Perindo 0,6 persen, Partai Buruh 0,5 persen, Hanura 0,3 persen, serta Ummat, PBB, Garuda, PKN dan Gelora masing-masing 0,1 persen.

Sementara partai politik yang selama ini diasosiasikan sebagai musuh bebuyutan PSI seperti Gerindra dan PDI-P justru bertengger di papan atas. Posisi pertama dihuni Gerindra dengan tingkat elektoral yang mencapai mencapai 23,2 persen disusul PDI-P 11,6 persen dan di urutan ke tiga diisi Golkar dengan persentase sebesar  10,4 persen.

"Ini merupakan tiga partai politik teratas pada pengukuran periode survei kita, Gerindra 23,2 persen, PDI-P 11,6 persen, dan Golkar 10,4 persen,” kata Peneliti Poltracking Indonesia Yoki Alvetro dilansir Olenka.id Rabu (30/9/2026).

Perlu dicatat, kendati Gerinda duduk di puncak, namun elektabilitas Partai politik berlambang garuda merah itu mengalami penurunan. Pada Maret 2026, elektabilitas Gerindra tercatat 26,1 persen. Angka itu kemudian menjadi 25,9 persen pada Mei, 23,5 persen pada Juli, dan turun lagi menjadi 23,2 persen pada Agustus.

Tren penurunan elektabilitas itu tidak hanya terjadi pada Gerindra, hal yang sama juga terjadi pada PDI-Perjuangan, bahkan partai politik besutan Megawati Soekarnoputri itu mengalami kemerosotan yang jauh lebih konsisten.  Elektabilitas PDI-P  tercatat 15,4 persen pada Maret, turun menjadi 14,4 persen pada Mei, kemudian 12,3 persen pada Juli, dan kembali turun menjadi 11,6 persen pada Agustus yang menjadi angka terendah  setidaknya dalam periode setahun belakangan ini.

“Golkar relatif lebih stabil.  Elektabilitasnya tercatat 9 persen pada Maret, 9,2 persen pada Mei, sempat naik menjadi 11,4 persen pada Juli, lalu berada di angka 10,4 persen pada Agustus,” ucap Yoki.

Sementara papan tengah diisi PKB dengan tingkat elektabilitas sebesar  6,2 persen disusul Partai Demokrat yang berada di angka 6,1 persen. Lalu Partai NasDem 4,4 persen, PAN 3,4 persen dan PKS 3,3 persen.

Adapun survei ini digelar pada periode 14 hingga 20 Agustus 2026 yang dilakukan lewat metode  wawancara tatap muka terhadap sekitar 1.200 responden yang tersebar di 38 provinsi. Poltracking menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Baca Juga: Jokowi Menabuh Genderang Perang, Prabowo Ditantang di Sarang Garuda Merah

Berikut hasil lengkap simulasi elektabilitas partai politik dalam survei Poltracking:

Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) 23,2%

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 11,6%

Partai Golongan Karya (Golkar) 10,4%

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 6,2%

Partai Demokrat (PD) 6,1%

Partai NasDem 4,4%

Partai Amanat Nasional (PAN) 3,4%

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 3,3%

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) 2,3%

Partai Persatuan Pembangunan [PPP) 1,9%

Partai Persatuan Indonesia (Perindo) 0,6%

Partai Buruh 0,5%

Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) 0,3%

Partai Ummat 0,1%

Partai Bulan Bintang (PBB) 0,1%

Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda) 0,1%

Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) 0,1%

Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora) 0,1%

Tidak tahu/tidak jawab 25,3%