Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Deddy Yevri Sitorus menyindir keras Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) atas pernyataannya mengenai penggunaan kekuasaan secara baik dan bijaksana.
Pernyataan dan nasihat-nasihat itu disampaikan Jokowi dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul ke-8 KH Musyafa Ali di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026).
Deddy mengatakan, ketimbang sibuk berbicara penggunaan kekuasaan secara baik dan bijaksana, Jokowi lebih baik kembali ke kebiasaan lamanya yakni pencitraan lewat aksi-aksi blusukan hingga masuk gorong-gorong.
Deddy menilai Jokowi tak pantas berbicara hal itu, apa yang disampaikan justru berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan Jokowi ketika berada di puncak kekuasaan.
"Udah benar kalau jadi mantan itu baiknya kembali masuk gorong-gorong. Ehh, malah main medsos dan menyebar hoaks!!! Orang kalau candu kekuasaan itu memang susah dinasehati!!” kata Deddy dilansir Olenka.id Senin (31/8/2026).
Menurut Deddy, Jokowi seharusnya berkaca pada pengalamannya sebagai pemimpin sebelum berbicara kiat-kiat menggunakan kekuasaan secara bijaksana. Dia menyebut nasihat yang disampaikan Jokowi adalah omong kosong sebab ia bahkan tak pernah menggunakan kekuasaannya dengan bijaksana.
"Ada yang bisa ngasih kaca ke bapak ini nggak ya? Sepertinya di rumah dia tidak ada kaca. Atau dia sedang menasehati dirinya sendiri kah?” ujarnya.
Sebelumnya, Jokowi menyampaikan tiga falsafah Jawa yang dinilainya relevan dengan sikap seorang pemimpin ketika memiliki kekuasaan.
Tiga petuah tersebut yakni “Lamun siro sekti, ojo mateni”, “Lamun siro pinter, ojo minteri”, dan “Lamun siro banter, ojo disiki”.
Jokowi kemudian menekankan pesan pertama, yakni agar seseorang yang memiliki kekuasaan tidak menggunakan kekuatannya untuk menjatuhkan orang lain.
"Jangan kita punya kekuasaan yang besar, kemudian kita pakai untuk menjatuhkan orang. Itu hal yang tidak baik," ujar Jokowi.
Menurut Jokowi, kekuasaan dan jabatan tidak bersifat permanen. Karena itu, seseorang yang sedang memegang kekuasaan harus mengingat bahwa posisi tersebut hanya sementara.
"Karena kekuasaan itu hanya sementara. Jabatan itu hanya sampingan. Itu yang harus diingat waktu kita memiliki kekuasaan," katanya.
Pernyataan Jokowi tersebut kemudian mendapat respons dari Deddy. Polemik ini menambah dinamika komunikasi politik antara PDIP dan Jokowi, terutama setelah hubungan politik keduanya mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir.