Growthmates, pola makan dan gaya hidup yang kurang sehat diduga berperan dalam meningkatkan risiko polycystic ovary syndrome (PCOS), salah satu gangguan hormonal yang cukup sering dialami perempuan usia reproduktif.
Meski penyebab PCOS bersifat kompleks dan dipengaruhi berbagai faktor, termasuk genetik dan hormon, kebiasaan sehari-hari juga dinilai dapat memengaruhi risikonya.
Dokter sekaligus Certified Nutrition & Health Coach, dr. Dion Haryadi, mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah kebiasaan makan yang ditemukan lebih sering dilakukan oleh remaja putri dengan PCOS berdasarkan sebuah penelitian di Iran.
"Hati-hati buat cewek yang punya kebiasaan-kebiasaan ini, karena risikonya terkena PCOS bisa jadi lebih tinggi. Ada sebuah penelitian di Iran yang mencoba mencari tahu kebiasaan makan para remaja wanita dengan PCOS. Peneliti mengumpulkan sekitar 33 remaja, lalu mewawancarai mereka mengenai pola makan sehari-hari," terang dr. Dion, dikutip dari laman Instagram pribadinya @dionharyadi, Selasa (28/7/2026).
Dari penelitian tersebut, kata dr. Dion, ditemukan beberapa pola kebiasaan yang berpotensi berkaitan dengan meningkatnya risiko PCOS.
Salah satunya adalah kebiasaan mengonsumsi makanan yang tinggi garam, lemak, dan gula tambahan, seperti makanan cepat saji maupun camilan olahan.
"Yang pertama, mereka lebih sering mengonsumsi makanan yang kurang sehat, khususnya makanan dan camilan yang tinggi garam, lemak, dan gula tambahan," jelasnya.
Selain itu, para remaja dalam penelitian tersebut juga diketahui jarang mengonsumsi makanan yang bernilai gizi tinggi, sehingga kebutuhan nutrisi penting bagi tubuh tidak terpenuhi secara optimal.
"Yang kedua, mereka jarang makan makanan yang lebih bergizi dan bermanfaat untuk kesehatan mereka," kata dr. Dion.
Baca Juga: 10 Tanda Awal PCOS yang Sering Diabaikan Wanita, Waspadai Gejalanya Sejak Dini!
Tak hanya jenis makanan, lanjut dr. Dion, cara makan juga menjadi sorotan. Menurutnya, kebiasaan makan tanpa kesadaran (mindful eating), makan dalam porsi berlebihan, serta pola makan dan aktivitas fisik yang tidak teratur juga ditemukan pada kelompok tersebut.
"Yang ketiga, mereka cenderung memiliki kebiasaan makan yang kurang baik, seperti tidak mindful saat makan dan makan dalam porsi berlebihan. Mereka juga memiliki pola makan dan aktivitas fisik yang tidak teratur," ujarnya.
dr. Dion juga mengingatkan bahaya menjalani diet ekstrem yang hanya berfokus pada penurunan berat badan secara cepat tanpa mempertimbangkan kesehatan tubuh secara menyeluruh.
"Yang terakhir, suka menjalani diet-diet ekstrem yang tidak jelas, yang hanya menargetkan berat badan turun secepat mungkin tanpa memedulikan kesehatan. Tentu saja itu berbahaya," tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa membangun pola makan sehat harus diawali dengan perubahan pola pikir. Menurutnya, diet yang baik bukanlah diet yang bersifat sementara, melainkan pola makan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
"Makanya saya selalu tekankan, yang paling penting adalah mindset-nya dulu. Diet yang kamu jalani harus bisa kamu lakukan seumur hidup. Jadi belajarlah memprioritaskan makanan yang lebih bergizi, sambil tetap menikmati makanan yang kamu suka dengan cara yang lebih bertanggung jawab," tutur dr. Dion.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa membangun kebiasaan makan sehat tidak hanya bermanfaat bagi remaja putri yang ingin menurunkan risiko PCOS, tetapi juga penting bagi siapa pun untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan.
"Ini akan sangat bermanfaat, bukan hanya untuk remaja wanita, tetapi juga untuk kita semua. Karena membangun pola makan yang sehat adalah kebiasaan yang memang harus dilakukan seumur hidup," pungkasnya.
Baca Juga: Mengenal PCOS: Gangguan Hormonal yang Kerap Tak Disadari Perempuan