Growthmates, memilih partner bisnis bukan hanya soal kecocokan visi atau kemampuan menjalankan usaha. Menurut manager bakat, influencer, sekaligus pengusaha, Jehian Panangian Sijabat, ada sejumlah tanda bahaya atau red flag yang sering luput diperhatikan, padahal bisa menjadi penyebab retaknya kerja sama di kemudian hari.

Menariknya, kakak kandung dari konten kreator Jerome Polin Sijabat ini mengatakan bahwa banyak orang justru salah fokus saat menilai calon partner bisnis.

Mereka cenderung membayangkan bagaimana sikap seseorang ketika bisnis sedang terpuruk, tetapi lupa mengamati perilakunya ketika bisnis sedang berada di masa terbaik.

"Kita kadang terlalu fokus berpikir kondisi imajiner ketika kita lagi gagal. Tapi kita lupa berpikir sebaliknya. Ketika omzet lagi bagus-bagusnya, sifat asli seseorang juga akan keluar,” tutur Jehian, dalam sebuah video sebagaimana Olenka kutip dari Instagram @weareparaswara, Rabu (22/7/2026).

Menurut pria yang pernah masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia ini, karakter seseorang tidak hanya terlihat ketika menghadapi tekanan, tetapi juga saat menikmati kesuksesan.

Bahkan, kata Jehian, momen ketika bisnis sedang berkembang pesat justru bisa menjadi ujian terbesar dalam sebuah kemitraan.

Adapun, lanjut Jehian, red flag pertama adalah ketika seseorang menunjukkan perubahan sikap saat sedang menikmati kesuksesan.

Jehian menilai, kondisi ketika bisnis sedang ‘to the moon’ sering kali memperlihatkan karakter asli seseorang.

Apabila seseorang mulai merasa paling benar, kehilangan sikap kritis, atau menunjukkan perilaku yang terasa janggal ketika berada di atas, hal tersebut patut diwaspadai.

"Ketika kamu ngerasa ada sesuatu yang aneh waktu partner kamu lagi berada di atas, itu adalah red flag pertama,” paparnya.

Baca Juga: 10 Nasihat Jeff Bezos untuk Pebisnis, dari Strategi hingga Keberanian Mengambil Risiko

Jehian juga menambahkan bahwa tanda tersebut bisa terlihat bahkan dari percakapan sehari-hari. Menurutnya, partner yang berhenti bersikap kritis saat bisnis sedang sukses berpotensi mengambil keputusan yang merugikan perusahaan di masa depan.

Red flag berikutnya, lanjut Jehian, adalah ketika seseorang tidak mampu memperlakukan tim atau orang-orang yang bekerja dengannya secara manusiawi.

Menurut Jehian, kemampuan membangun hubungan yang sehat dengan karyawan maupun rekan kerja merupakan kualitas penting dalam seorang partner bisnis. Sebab, bisnis yang bertumbuh membutuhkan kolaborasi, bukan hanya kemampuan menghasilkan keuntungan.

"Kalau mereka tidak bisa memanusiakan orang-orang yang bekerja sama mereka, itu juga menjadi red flag,” bebernya.

Kata dia, partner yang tidak menghargai orang lain berpotensi menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat dan menghambat perkembangan bisnis dalam jangka panjang.

Dan, red flag terakhir adalah sikap defensif. Jehian mengingatkan bahwa partner bisnis yang baik seharusnya terbuka terhadap kritik dan bersedia mengevaluasi diri.

Sebaliknya, kata dia, jika setiap masukan selalu dibalas dengan pembelaan diri, mencari alasan, atau menghindari tanggung jawab, kerja sama akan sulit berkembang.

"Kalau diberikan kritik yang membangun selalu menyangkal dan berusaha mencari alasan untuk tidak mau mengambil tanggung jawab atas apa yang sudah diperbuat,” ungkapnya.

MenurutJehian, kemampuan menerima kritik merupakan fondasi penting dalam membangun hubungan bisnis yang sehat.

“Partner yang mau bertanggung jawab atas kesalahan akan lebih mudah diajak bertumbuh bersama dibandingkan mereka yang terus menyalahkan keadaan atau orang lain,” tandasnya.

Baca Juga: Tipe Karyawan yang Dibutuhkan Agar Bisnis Berkembang Lebih Cepat