Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jahja Setiaatmadja, menekankan pentingnya keseimbangan antara kehidupan profesional dan pribadi atau work-life balance dalam membangun lingkungan kerja yang produktif.

Salah satu langkah yang pernah diterapkannya saat menjabat sebagai Presiden Direktur BCA adalah membatasi rapat agar tidak berlangsung hingga larut malam.

Jahja mengungkapkan, selama memimpin BCA sebagai Presiden Direktur, dirinya berupaya membangun kebiasaan kerja yang lebih teratur dengan menghindari rapat setelah pukul 20.00.

Menurutnya, budaya kerja yang baik tidak harus identik dengan jam kerja panjang, melainkan perlu mengutamakan efektivitas dan kemampuan mengambil keputusan secara tepat.

“Sesudah itu saya menganut filosofi work balance. Nah, jadi waktu saya mulai jadi pres di BCA, believe it or not, hampir nggak pernah rapat lebih dari jam 8 malam. Nggak ada,” terang Jahja, sebagaimana Olenka kutip dari akun OJK, Jumat (16/10/2026).

Jahja melanjutkan, kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan keseimbangan antara tanggung jawab pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Meski demikian, Jahja mengakui terdapat fungsi tertentu yang memang membutuhkan layanan sepanjang waktu, seperti divisi teknologi informasi (IT) dan Halo BCA yang beroperasi selama 24 jam.

Baca Juga: Jahja Setiaatmadja: Leader Harus Walk to Talk soal Etik dan Integritas

Namun, untuk rapat jajaran direksi, ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak perlu berlangsung hingga malam.

Dikatakan Jahja, agenda rapat sebaiknya diselesaikan lebih awal agar waktu kerja dapat dimanfaatkan secara efektif tanpa mengorbankan waktu istirahat.

“Di BCA itu boleh cari dah, kecuali orang IT memang 24 jam. Ada Halo BCA 24 jam. Tapi direksi rapat sampai jam 8, jam 9, jam 12 nggak ada. Kita cut jam 7 itu udah selesai semua pulang,” katanya.

Selain mendorong penerapan work-life balance, Jahja juga menyoroti pentingnya pola kerja cerdas atau work smart.

Baginya, produktivitas tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa lama seseorang bekerja, tetapi juga oleh kemampuannya menyelesaikan tugas secara efektif, mengambil keputusan dengan cepat, serta mendelegasikan pekerjaan secara tepat.

Ia menilai, pendekatan work smart dapat membantu perusahaan meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan sekaligus mendorong pembagian tanggung jawab yang lebih baik di dalam organisasi.

“Work smart, saya bilang, jangan work hard. Karena work smart itu kita bisa lebih cepat mengambil keputusan dan juga mendelegasikan kepada orang,” tutup Jahja.

Baca Juga: Jahja Setiaatmadja Bicara Leadership: Saat Gagal, Leader Harus Pasang Badan