Jahja kemudian menekankan pentingnya kemampuan seorang pemimpin untuk melihat kondisi dari berbagai arah.

Ia menggunakan istilah ‘mata keliling’ untuk menggambarkan pentingnya kepekaan terhadap perubahan sekaligus kemampuan mendengar suara dari berbagai lapisan organisasi.

“Masa lalu itu hanya historis. Kita belajar dengan kasus-kasus yang terjadi masa lalu. Saat ini kita harus lihat punya mata keliling,” kata Jahja.

Selain melihat kondisi secara luas, menurutnya, pemimpin juga perlu memiliki kemampuan untuk mendengarkan masukan, terutama dari orang-orang yang berada di garis depan organisasi.

Masukan dari karyawan maupun nasabah, kata Jahja, dapat memberikan perspektif yang mungkin tidak terlihat oleh seorang pemimpin.

“Punya mata keliling dan kuping mendengar masukan-masukan dari bawah. Jangan sombong. Sebagai pemimpin bilang, wah saya sudah bos, saya semua tahu,” ujarnya.

Jahja pun menegaskan bahwa seorang pemimpin tidak mungkin mengetahui segala sesuatu seorang diri.

Justru, kata dia, keberadaan karyawan dan nasabah yang memberikan masukan dapat membantu pemimpin mengambil keputusan yang lebih baik dan membawa organisasi bergerak ke arah yang tepat.

“Tidak benar. Saya itu banyak sekali dibantu oleh para karyawan, para nasabah dan karyawan yang memberi masukan ide-ide,” katanya.

Menurut Jahja, sikap rendah hati bukan berarti menunjukkan kelemahan seorang pemimpin. Sebaliknya, kesediaan untuk mendengar dapat menjadi kekuatan karena membuat pemimpin memperoleh lebih banyak perspektif sebelum menentukan langkah.

Karena itu, di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin cepat, pemimpin dituntut tidak hanya memiliki kemampuan membuat strategi, tetapi juga harus adaptif, terbuka terhadap evaluasi, dan mau mendengarkan masukan dari berbagai pihak.

“Jadi kita tidak boleh sombong bahwa kita adalah orang yang serba tahu,” pungkas Jahja.

Baca Juga: Jahja Setiaatmadja Ungkap Alasan Tak Pernah Marah-Marah ke Orang Lain