Indonesia memiliki cadangan mineral kritis yang melimpah, mulai dari nikel, bauksit, tembaga, hingga silika. Berbagai komoditas tersebut merupakan bahan baku utama untuk pengembangan teknologi energi bersih seperti baterai kendaraan listrik, panel surya, hingga sistem penyimpanan energi.
Di tengah meningkatnya kebutuhan global terhadap mineral kritis, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam rantai pasok energi bersih dunia.
Namun, meski kaya akan sumber daya alam, sebagian besar komponen energi bersih bernilai tambah tinggi masih diproduksi di luar negeri dan diimpor ke Indonesia.
Kondisi tersebut menjadi sorotan dalam forum diskusi Mineral Kritis Indonesia di Tengah Krisis Energi Dunia yang diselenggarakan INDEF dan ViriyaENB. Para pembicara menilai Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam membangun industri manufaktur komponen energi bersih yang mampu mengolah mineral kritis menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Associate Principal Energy Shift Institute (ESI), Ahmad Zuhdi Dwi Kusuma, mengatakan Indonesia masih memiliki keterbatasan dalam menghasilkan komponen berteknologi tinggi yang dibutuhkan untuk kendaraan listrik maupun panel surya.
“Banyak sekali produk-produk komponen yang dibutuhkan dalam memproduksi mobil listrik, solar panel, dan sebagainya yang nilai tambahnya tinggi, memiliki kompleksitas yang tinggi, tapi saat ini kapabilitas kita masih jauh dari produk-produk tersebut,” ujarnya pada Rabu (17/06/2026).
Menurut Zuhdi, ketersediaan nikel, bauksit, tembaga, dan silika menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mengembangkan industri energi bersih. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya mampu diterjemahkan menjadi produk manufaktur dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Baca Juga: Cabut Izin 4 Perusahaan Tambang di Raja Ampat, Kenapa Prabowo Biarkan PT Gag Nikel Tetap Beroperasi?
Oleh karena itu, pengembangan industri mineral kritis tidak boleh berhenti pada tahap pengolahan bahan baku semata. Hilirisasi perlu diarahkan hingga mampu menghasilkan komponen strategis dan produk akhir yang dibutuhkan dalam ekosistem energi bersih, termasuk baterai kendaraan listrik dan panel surya.
Direktur Perencanaan Pengolahan Sumber Daya Mineral MIND ID, Budi Santoso, mengatakan hilirisasi harus dilakukan secara terintegrasi agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku bagi industri global.
“Kita harus membangun ekosistem dari hulu hingga ke hilir yang kokoh di dalam negeri. Kita harus memastikan rantai nilai dari penambangan, pengolahan, pemurnian, hingga menjadi produk antara bahkan produk akhir bisa terjadi di Indonesia,” katanya.
Budi menambahkan, penguatan rantai nilai industri di dalam negeri menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam rantai pasok energi bersih global sekaligus menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
Salah satu tantangan terbesar dalam memperkuat hilirisasi mineral dan industri energi bersih nasional adalah penguasaan teknologi manufaktur berteknologi tinggi. Karena itu, investasi yang masuk ke Indonesia perlu mampu mendorong transfer teknologi sehingga industri nasional dapat berkembang dan bersaing di pasar global.
Baca Juga: Daftar Nama Konglomerat Pemilik Tambang Nikel di Indonesia
Sementara itu, Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Cecep Mochammad Yasin, mengatakan hilirisasi bukan hanya bertujuan meningkatkan nilai jual komoditas tambang, tetapi juga menjadi strategi untuk membangun ekosistem industri nasional yang lebih kuat.
“Kita ingin mengubah paradigma dari yang dulunya merupakan eksportir bahan mentah menjadi produsen produk-produk olahan bernilai tambah tinggi, bahkan kalau bisa sampai ke produk akhir seperti baterai dan kendaraan listrik itu sendiri,” ujarnya.
Meningkatnya permintaan global terhadap kendaraan listrik dan teknologi energi bersih dinilai menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok dunia. Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan pengembangan industri pengolahan dan manufaktur di dalam negeri agar manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat lebih optimal.
Dengan cadangan mineral kritis yang melimpah, terutama nikel dan silika yang menjadi bahan penting dalam industri energi bersih, Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi pemain utama di pasar global.
Tantangan berikutnya adalah memastikan hilirisasi berjalan hingga tahap manufaktur dan produk akhir sehingga nilai tambah dari mineral kritis dapat dinikmati di dalam negeri.