Temuan terbaru Ericsson (NASDAQ: ERIC), ConsumerLab, mencatat sebanyak 22 persen konsumen di Indonesia menggunakan kecerdasan buatan (AI) multimodal setiap hari, dan berinteraksi dengan AI melalui teks, gambar, video, suara, maupun dokumen. Hal tersebut menempatkan Indonesia di posisi kedua setelah Tiongkok dari 27 pasar yang diteliti.
Tingginya penggunaan AI multimodal tersebut menunjukkan bahwa cara masyarakat berinteraksi dengan AI mulai bergeser dari yang didominasi teks menjadi semakin beragam, interaktif, dan melibatkan berbagai jenis konten. Tren ini diperkirakan akan terus meningkat. Pada 2030, Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu dari enam pasar di Asia dengan lebih dari 40 persen konsumen yang menggunakan AI multimodal secara intensif, dengan angkanya diperkirakan mencapai 45 persen di Indonesia, dibandingkan 30 persen secara global.
Baca Juga: FLOQ dan Telkomsel Jajaki Perluasan Akses Aset Digital
Meningkatnya penggunaan AI multimodal juga membawa implikasi terhadap kebutuhan jaringan. Semakin banyak aktivitas AI yang melibatkan unggahan gambar, video, suara, dan dokumen di berbagai perangkat dan lokasi, jaringan dituntut tidak hanya memiliki kapasi tas yang memadai, tetapi juga mampu menghadirkan konektivitas yang cepat, responsif, dan andal.
Kebutuhan tersebut terlihat khususnya pada kelompok AI super users , yakni konsumen yang menggunakan AI lebih intensif untuk lebih banyak aktivitas ketimbang pengguna rata -rata. Bagi kelompok ini, waktu respons AI berperan lebih besar dalam menentukan kepuasan terhadap jaringan, yaitu sekitar 20 persen dibandingkan 8 persen pada pengguna smartphone secara umum. Temuan ConsumerLab lebih lanjut menunjukkan bahwa waktu respons AI memiliki pengaruh sekitar tiga kali lebih besar terhadap kepuasan jaringan bagi AI super users di Indonesia.
Selain performa jaringan, kepercayaan juga menjadi perhatian konsumen. Di Indonesia, 59 persen pengguna AI harian mengaku sangat khawatir terhadap asisten AI palsu yang bertindak atas nama mereka. Di sisi lain, penyedia layanan komunikasi (communications service providers/CSP) di Indonesia menempati peringkat kedua dalam tingkat kepercayaan untuk memverifikasi identitas asisten AI, menunjukkan peran penting CSP dalam mendukung interaksi AI yang aman dan tepercaya.
"Penggunaan AI di Indonesia yang semakin beragam menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap konektivitas juga terus berkembang. Seiring konsumen memanfaatkan AI melalui berbagai jenis konten dan perangkat, jaringan perlu menghadirkan pengalaman yang cepat, responsif, dan andal, sekaligus memastikan keamanan dan kepercayaan dalam setiap interaksi digital," ujar Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, dikutip Rabu (28/10/2026).
Menuju Era Agentic AI
Perkembangan AI tidak berhenti pada penggunaan multimodal. Tahap berikutnya adalah agentic AI , yaitu AI yang dapat menjalankan tugas tertentu atas nama pengguna, dengan atau tanpa keterlibatan langsung pengguna.
Di Indonesia, penggunaan agentic AI diproyeksikan meningkat dari 8 persen saat ini menjadi 44 persen pada 2030. Secara global, laporan ini memperkirakan sekitar dua dari lima konsumen akan menggunakan agentic AI pada periode yang sama. Konsumen juga memperkirakan bahwa mendelegasikan tugas rutin kepada AI, seperti membandingkan produk, mengatur jadwal, atau mengelola pembelian berulang, dapat menghemat sekitar satu jam waktu layar per hari.
Ketika AI mulai menjalankan lebih banyak tugas di latar belakang, kebutuhan jaringan pun berpotensi ikut berubah. Pola aktivitas yang semakin terus -menerus dapat meningkatkan kebutuhan terhadap konektivitas dengan latensi rendah, kapasitas uplink yang memadai, serta performa jaringan yang konsisten dan dapat diprediksi.
Perkembangan pengalaman AI juga semakin meluas di luar smartphone. ConsumerLab memproyeksikan bahwa pada 2030, sebanyak 35 persen konsumen di Indonesia akan menggunakan AI melalui perangkat lain selain smartphone, termasuk smart glasses. Seiring penggunaan AI yang semakin meluas ke berbagai perangkat dan lokasi, jaringan perlu mendukung konektivitas yang responsif dan andal, serta kapasitas uplink yang memadai, terutama di lingkungan padat seperti area perkotaan dan lokasi acara.
“Bagi Indonesia, kesiapan jaringan dalam mengantisipasi perubahan ini menjadi salah satu faktor penting untuk membuka potensi AI dalam menghadirkan layanan digital yang lebih relevan dan efisien. Dengan persiapan yang tepat, Indonesia memiliki peluang untuk terus memperkuat adopsi AI sekaligus mempercepat transformasi digital menuju Visi Indonesia 2045,” tutup Nora.
Laporan An Agentic Life: How Consumer AI Usage is Shaping Future Network Needs merupakan studi terbaru Ericsson ConsumerLab berdasarkan survei terhadap lebih dari 43.000 pengguna smartphone berusia 15– 69 tahun di 27 pasar dengan pengumpulan data pada Juni – Agustus 2025 serta Februari – Maret 2026.