Dalam perhelatan Huawei Cloud AI Boost Day bertema “Agentic AI Practice” yang digelar di Jakarta (16/4), Huawei Cloud meluncurkan layanan Model-as-a-Service (MaaS) untuk Indonesia. Peluncuran ini menandai langkah penting dalam mendorong adopsi kecerdasan buatan (AI) oleh bisnis di Indonesia, membawa perusahaan-perusahaan beralih dari tahap percobaan ke penerapan AI secara luas di dunia nyata.
Memanfaatkan keunggulan mesin akselerasi yang dibangun, dikembangkan dan dimiliki sepenuhnya secara mandiri (proprietary), Huawei Cloud MaaS memberi kemampuan pada perusahaan untuk beralih dari migrasi cloud konvensional menuju penguasaan bisnis yang digerakkan oleh AI. Platform ini menyediakan akses satu klik dan hosting model siap pakai (out-of-the-box) yang secara efektif menghilangkan hambatan teknis dalam adopsi AI skala besar serta membangun fondasi yang tangguh bagi inovasi digital.
Baca Juga: Kolaborasi Strategis Telkomsel dan Huawei Perkuat 5G dan Home Broadband Indonesia
"Saat ini, kita menyaksikan adanya pergeseran fundamental dari AI sebagai alat bantu menjadi AI sebagai ‘Pekerja Digital’ yang mampu mengeksekusi tugas-tugas kompleks dalam ekosistem perusahaan. Dengan menghadirkan Model-as-a- Service (MaaS) di Indonesia, kami menyediakan fondasi berperforma tinggi yang diperlukan bagi pelaku bisnis untuk beranjak dari sekadar proyek percontohan menuju dampak bisnis yang nyata. Tujuan kami adalah menjadikan AI semudah dan seandal layanan listrik, memberdayakan industri di Indonesia untuk bekerja lebih cerdas dan berinovasi lebih cepat melalui infrastruktur cloud native yang aman," kata Leon Fang, CEO Huawei Cloud Indonesia, dalam keterangan resminya.
Guna mewujudkan visi ini, Huawei Cloud telah mengintegrasikan enam model sumber terbuka kelas dunia dari keluarga GLM, DeepSeek, dan Qwen, yang dioptimalkan untuk dua pilar industri yakni Intelligent Q&A dan AI Coding. Kerangka kerja MaaS mengelola seluruh siklus hidup model – mulai dari penerapan dan inferensi hingga penyempurnaan respons (fine-tuning) dan evaluasi – sehingga pengembang dapat fokus pada inovasi layanan tanpa terbebani pengelolaan infrastruktur.
Implementasi ini menunjukkan hasil signifikan pada beberapa area kunci:
- Performa State-of-the-Art (SOTA): Dukungan untuk model AI canggih seperti GLM-5, yang menawarkan performa unggul dalam tugas coding serta kapabilitas AI agentik untuk aplikasi yang kompleks dalam ekosistem perusahaan;
- Kemampuan adaptasi secara cepat dalam operasional: Sumber daya komputasi elastis dan model penagihan berbasis penggunaan (pay-per-use) memungkinkan organisasi bisnis untuk meningkatkan skala adopsi AI secara efisien dan menjaga struktur biaya tetap terkendali;
- Portofolio komprehensif: Peluncuran MaaS ini memperkuat ekosistem AI Huawei yang mencakup CloudMatrix AI Infra, ModelArts, dan DataArts, yang akan diikuti oleh kehadiran CodeArts dan AgentArts di wilayah Asia Pasifik pada paruh kedua tahun 2026.
Lompatan teknologi ini didukung oleh jaringan infrastruktur cloud yang optimal di Asia Pasifik, mencakup lima Region dan 18 Availability Zones (AZ) guna memberikan jaminan latensi akses 50 ms yang telah menciptakan berbagai dampak positif nyata bagi para pemain industri terkemuka.
“Inovasi di era AI memerlukan komitmen yang kuat dan masif pada aspek fundamental. Itulah mengapa Huawei terus menginvestasikan 20% dari pendapatannya untuk R&D, guna membangun fondasi digital yang tepercaya dan berkelanjutan,” pungkas Fang.