Persoalan kesehatan mental remaja kini tak lagi bisa dipandang sebelah mata. Dengan berbagai rutinitas sekolah dan aktivitas sehari-hari, tak sedikit generasi muda Indonesia yang diam-diam berjuang menghadapi rasa cemas hingga kesepian.

Memahami hal tersebut, Health Collaborative Center (HCC) menghadirkan pendekatan yang sederhana namun bermakna, yakni membangun kepedulian dari hubungan pertemanan di sekolah untuk menciptakan lingkungan yang lebih suportif bagi siswa. Pendekatan tersebut diimplementasikan HCC melalui “Cek Teman Sebelah”, sebuah program yang lahir dari berbagai penelitian HCC terkait perilaku kesehatan dan kesehatan mental remaja.

Baca Juga: Libatkan 192.000 Siswa, Nestlé Resmi Gelar Kompetisi DANCOW Indonesia Cerdas Season 2

Pendiri dan Ketua Health Collaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, mengungkapkan bahwa HCC aktif melakukan riset berbasis komunitas, termasuk studi mengenai kesepian yang dilakukan sejak 2023 di Jakarta. Dari penelitian tersebut, HCC menemukan bahwa rasa kesepian tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan.

“Kesepian itu ternyata bisa memberikan dampak gangguan metabolik sampai kesehatan jiwa. Karena itu, kami melihat perlu ada intervensi sejak dini, terutama di lingkungan sekolah," ungkap Dokter Ray di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Baca Juga: OREO Dorong 7.000 Siswa Dapatkan Akses Pembelajaran Menyenangkan Lewat Program OREO Berbagi Seru

Berangkat dari temuan tersebut, HCC mengembangkan pendekatan berbasis prososial dan empati. Salah satu inspirasi itu datang dari negara-negara Skandinavia yang menerapkan metode tootling. Metode tersebut mengajarkan para siswa untuk fokus melihat dan melaporkan kebaikan-kebaikan teman setiap harinya sebagai bagian dari pendidikan karakter. 

Konsep inilah yang kemudian diadaptasi HCC ke dalam program Cek Teman Sebelah yang dijalankan di empat sekolah binaan Puskesmas Ciracas, yakni SMKN 68, SMK Bina Dharma, MAN 15, dan MAN 24 Jakarta Timur. Hasilnya, program tersebut terbukti mampu meningkatkan empati remaja hingga lima kali lipat.

"Ini sudah dibuktikan HCC lewat studi di beberapa SMA bahwa empati remaja yang melakukan metode tootling itu meningkat hingga lima kali lipat. Ini pun memotivasi HCC untuk mengimplementasikan ini secara lebih luas," tambah Dokter Ray.

Melalui program Cek Teman Sebelah, siswa diajak melakukan aksi sederhana selama beberapa hari, mulai dari memperhatikan perubahan perilaku teman, membuka percakapan yang suportif, hingga melaporkan tindakan baik yang dilakukan teman sebaya.

Program ini dipimpin oleh Project Coordinator Bunga Pelangi, MKM, dan dirancang sebagai eksperimen sosial berbasis sekolah yang mendorong keterlibatan aktif siswa dalam menciptakan lingkungan sosial yang lebih positif.

Menurut Dokter Ray, pendekatan sederhana seperti ini justru memiliki dampak besar terhadap kesehatan mental remaja. Berbagai studi menunjukkan bahwa dukungan sosial dari teman sebaya dapat membantu menurunkan risiko stres psikologis, depresi, hingga perilaku menyakiti diri.

“Kadang intervensi kesehatan mental paling sederhana bukan langsung terapi, tetapi kehadiran manusia lain yang benar-benar peduli,” tambahnya.

HCC menilai sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang penting dalam pembentukan karakter sosial dan emosional generasi muda. Karena itu, membangun budaya empati dan solidaritas di sekolah menjadi bagian penting dalam menciptakan kesehatan masyarakat jangka panjang.

Selain itu, program ini juga hadir sebagai respons terhadap fenomena menurunnya kualitas interaksi langsung di kalangan remaja akibat tekanan sosial digital, cyberbullying, hingga meningkatnya rasa kesepian di usia muda.

Menariknya, dari implementasi awal yang dilakukan HCC sebelumnya, pendekatan berbasis empati ini menunjukkan hasil positif. Dalam program yang berlangsung selama 10 hari, terjadi peningkatan perilaku positif dan empati pada siswa. Bahkan setelah program selesai, sebagian siswa masih mempertahankan kebiasaan baik tersebut.

Bagi HCC, hal ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku dapat tumbuh dari intervensi sederhana yang dilakukan secara menyenangkan, dekat dengan keseharian remaja, dan melibatkan siswa secara langsung.

Ke depan, HCC berencana memperluas implementasi “Cek Teman Sebelah” ke lebih banyak sekolah dan komunitas remaja di Indonesia sebagai bagian dari gerakan promotif kesehatan mental berbasis empati sosial.

Melalui gerakan ini, HCC ingin menunjukkan bahwa lingkungan yang sehat bagi generasi muda tidak hanya dibangun lewat fasilitas dan sistem pendidikan, tetapi juga dari keberanian untuk hadir, mendengarkan, dan peduli terhadap teman di sebelahnya.