Mantan Menteri Keuangan RI periode Maret-Mei 1998, Fuad Bawazier, menilai, kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax merupakan langkah yang wajar di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik, termasuk konflik di Selat Hormuz.
Menurut Fuad, Indonesia justru termasuk negara yang relatif lama menahan kenaikan harga BBM dibandingkan banyak negara lain yang lebih cepat menyesuaikan harga ketika harga minyak dunia melonjak.
"Sejak mulai perang Hormuz itu, harga minyak memang sudah naik, dan kita kan negara impor. Tapi di negara-negara lain itu kan naiknya seketika. Hampir di semua negara," kata Fuad, saat ditemui Olenka, di Jakarta, baru-baru ini.
Fuad menilai, pemerintah patut diapresiasi karena mampu mempertahankan harga BBM dalam waktu yang cukup lama, khususnya untuk jenis BBM bersubsidi yang hingga kini masih mendapat perlindungan dari pemerintah.
"Nah, kita bisa mempertahankan sebegitu lamanya. Sehingga baru saja dinaikkan sekarang ini. Itu pun yang dinaikkan non-subsidi. Yang subsidi masih pemerintah mempertahankan. Itu cuma kita di dunia ini. Alhamdulillah," ujarnya.
Fuad menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM non-subsidi pada akhirnya sulit dihindari karena pemerintah juga harus menjaga keseimbangan keuangan negara.
Menurutnya, penundaan kenaikan harga sudah dilakukan cukup lama dan tentu telah melalui berbagai perhitungan.
"Yang non-subsidi ya sudah, apa boleh buat itu mesti dinaikkan karena sudah tidak mungkin lagi. Tentunya negara itu sudah memperhitungkan," katanya.
Baca Juga: Mantan Menkeu Fuad Bawazier Soroti Isu Reshuffle Purbaya
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa pemerintah harus mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk kemampuan fiskal negara agar tidak terbebani secara berlebihan.
"Tapi dengan menunda terus, negara sudah memperhitungkan juga. Jangan sampai nanti misalnya pemerintahnya jadi pangkrut. Itu kan mempertimbangkan keseimbangan," jelasnya.
Terkait kenaikan harga Pertamax yang mencapai sekitar 32 persen, Fuad menilai, besaran tersebut masih wajar dan telah melalui pertimbangan yang matang dari pemerintah maupun Pertamina.
"Ya memang naiknya harus begitu. Sudah lama apalagi," kata Fuad.
Saat ditanya apakah kenaikan tersebut terlalu besar, ia menjawab bahwa angka itu masih dapat diterima mengingat kondisi harga minyak dunia saat ini.
"Ya, saya kira tidak. Tentu pemerintah sudah mempertimbangkan itu," tukasnya.
Fuad juga menegaskan bahwa kebijakan harga BBM bersifat dinamis dan dapat disesuaikan kembali jika harga minyak dunia mengalami penurunan.
"Menurut saya sudah oke. Tapi nanti insya Allah kalau harga turun, akan turunkan lagi. Masih akan turunkan lagi," pungkasnya.
Baca Juga: Kenaikan Harga Pertamax Minim Timbulkan Risiko Gejolak Sosial