Upaya pemanfaatan limbah kelapa sawit terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan akan solusi berkelanjutan di berbagai sektor industri.
Salah satu inovasi menarik datang dari Peneliti Pusat Studi Sawit IPB sekaligus dosen IPB University, Siti Nikmatin, yang mendorong pemanfaatan limbah sawit menjadi produk bernilai tambah, khususnya untuk industri otomotif.
Kepada Olenka, Siti mengungkapkan harapannya agar ke depan dapat terjalin kerja sama komersial dengan Astra Group.
Kolaborasi ini dinilai penting untuk mengoptimalkan potensi limbah kelapa sawit, terutama tandan kosong kelapa sawit (TKKS), agar tidak hanya menjadi limbah, tetapi juga sumber bahan baku industri.
“Penelitian kelapa sawit yang saya jalani kan sudah tahun 2015. Dan itu mengolah limbah, salah satunya untuk produk otomotif,” ungkap Siti.
Dikatakan Siti, berdasarkan riset yang telah dilakukan selama hampir satu dekade, TKKS terbukti dapat diolah menjadi material berbasis selulosa yang memiliki potensi luas.
Adapun, aterial ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan industri otomotif, mulai dari helm hingga komponen filter kendaraan, seperti filter oli, filter udara, dan filter air conditioner (AC).
“Saat ini kan saya lagi membuat filter oli, filter udara, filter AC berbasis selulosa kelapa sawit,” jelasnya.
Baca Juga: Kisah Peneliti IPB Mengubah Limbah Sawit Jadi Peluang Usaha
Siti menuturkan, penelitian tersebut bahkan telah memasuki tahap implementasi terbatas melalui kerja sama riset dengan PT FSCM Manufaktur Indonesia, yang merupakan bagian dari Astra Otoparts.
“Saya sekarang penelitian di PT FSCM Manufaktur Indonesia, di mana itu bagian dari Astra Otoparts untuk yang filter,” tambahnya.
Meski demikian, Siti mengakui bahwa jalan menuju kolaborasi komersial skala besar masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi biaya produksi.
Salah satu hambatan utama terletak pada proses pengolahan TKKS menjadi alpha cellulose, yang membutuhkan tahapan tambahan dengan biaya yang relatif tinggi.
“Tapi ya itu sejauh ini mereka belum ada sih kerja sama. Ya karena mengolah TKKS ini untuk menjadi alpha cellulose aja itu membutuhkan satu step yang dari sisi cost itu yang lumayan besar,” ungkapnya.
Kondisi ekonomi dan pertimbangan investasi juga menjadi faktor yang memengaruhi keputusan industri. Menurut Siti, di tengah ketidakpastian, perusahaan cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil langkah investasi baru.
“Sehingga kadang-kadang mereka di era seperti ini kan investasi itu menjadi pemikiran yang berlipat-lipat ya. Jadi kalau saat ini sudah bisa existing, ya dijalankan dulu mungkin pemikirannya seperti itu. Daripada nanti invest baru ketidakpastiannya kan tinggi gitu. Nah itu kadang menjadi kendala,” tandasnya.
Baca Juga: Peneliti IPB Ungkap Potensi Limbah Sawit Jadi Material Kelas Dunia Pengganti Impor