Pulihnya operasional penerbangan di kawasan Timur Tengah mulai memberikan dampak positif terhadap pemulihan perjalanan internasional masyarakat Indonesia. Golden Rama Tours & Travel mencatat peningkatan sekitar 11,2% pada permintaan perjalanan internasional, dalam beberapa minggu terakhir dibandingkan periode ketika operasional penerbangan di kawasan tersebut masih terdampak dinamika geopolitik.
Peningkatan tersebut terutama terlihat pada rute-rute yang memanfaatkan konektivitas melalui Dubai, Abu Dhabi, dan Doha, tiga hub penerbangan internasional yang selama ini menjadi gerbang utama bagi wisatawan Indonesia menuju berbagai destinasi di Eropa, Amerika Serikat, Afrika, hingga kawasan Timur Tengah.
"Pulihnya operasional penerbangan di Timur Tengah bukan hanya berdampak pada perjalanan menuju kawasan Teluk, melainkan juga memulihkan salah satu jalur konektivitas internasional terpenting bagi wisatawan Indonesia. Dubai, Abu Dhabi, dan Doha merupakan hub global yang menghubungkan Indonesia dengan ratusan kota di Eropa, Afrika, Amerika Serikat, hingga Timur Tengah melalui jaringan penerbangan yang luas dan efisien," ujar Ricky Hilton, General Manager of Communications & CRM Golden Rama Tours & Travel, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Golden Rama melihat adanya perubahan perilaku wisatawan seiring membaiknya situasi. Jika sebelumnya banyak pelanggan memilih menunda keputusan perjalanan sambil menunggu perkembangan kondisi geopolitik dan operasional maskapai, kini semakin banyak wisatawan yang kembali aktif berkonsultasi, meminta rekomendasi rute, hingga mengonfirmasi pemesanan untuk keberangkatan pada semester kedua 2026.
Selain berfungsi sebagai hub penerbangan internasional, kawasan Teluk juga tetap menjadi salah satu destinasi yang kembali diminati wisatawan Indonesia. Golden Rama melihat bahwa seiring pulihnya konektivitas penerbangan, minat masyarakat terhadap Dubai tidak hanya kembali meningkat, tetapi juga diikuti perubahan preferensi dalam memilih pengalaman wisata.
"Menariknya, kami melihat preferensi wisatawan Indonesia juga mulai bergeser. Jika sebelumnya Dubai lebih identik sebagai destinasi belanja dan stopover, kini semakin banyak pelanggan yang mencari pengalaman (experiential travel) yang lebih beragam, mulai dari wisata budaya, arsitektur, kuliner, hingga atraksi berbasis teknologi. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan Indonesia kini semakin mengutamakan kualitas pengalaman selama berlibur," ujar Ricky.
Salah satu destinasi yang paling banyak diminati adalah Museum of the Future, museum ikonik dengan arsitektur futuristik yang mengajak pengunjung menjelajahi masa depan melalui pengalaman interaktif seputar kecerdasan buatan (AI), eksplorasi luar angkasa, robotika, hingga teknologi berkelanjutan.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati panorama kota dari ketinggian, Burj Khalifa yang juga merupakan ikon utama Dubai menjadi salah satu spot favorit. Sebagai gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa menyuguhkan pemandangan gurun, laut, hingga kota yang spektakuler. Sementara itu, Al Seef menawarkan pengalaman yang berbeda. Terletak di sepanjang Dubai Creek, kawasan ini memadukan arsitektur tradisional Emirat dengan konsep gaya hidup modern melalui deretan kafe, restoran, pasar seni, hingga toko suvenir.
Meningkatnya minat wisatawan Indonesia melalui jalur penerbangan Timur Tengah menunjukkan bahwa normalisasi konektivitas tidak hanya mempermudah akses menuju Eropa, Amerika Serikat, dan Afrika, tetapi juga menghidupkan kembali minat masyarakat untuk menjadikan kawasan Teluk sebagai destinasi wisata. Dengan pulihnya jaringan penerbangan global, Timur Tengah kembali memainkan peran ganda, baik sebagai hub internasional maupun sebagai destinasi yang menawarkan berbagai pengalaman wisata kelas dunia.
Melihat tren tersebut, Golden Rama memperkirakan permintaan perjalanan internasional pada semester kedua 2026 akan meningkat sekitar 70,8% dibandingkan semester pertama. Salah satu indikator paling menonjol terlihat pada destinasi Amerika Serikat, Eropa, dan kawasan Mediterania yang mencatat lonjakan minat wisatawan hingga hampir 200%. Secara keseluruhan, pertumbuhan ini didorong oleh semakin stabilnya operasional penerbangan melalui kawasan Timur Tengah, meningkatnya kepercayaan wisatawan, serta tingginya antusiasme masyarakat Indonesia untuk kembali berwisata ke luar negeri menjelang musim liburan akhir tahun.
"Kami optimistis tren positif ini akan terus berlanjut. Ketika konektivitas penerbangan kembali normal, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan rute yang efisien dan nyaman menuju berbagai destinasi internasional. Bagi industri pariwisata, ini menjadi momentum penting untuk kembali mendorong pertumbuhan perjalanan keluar negeri secara berkelanjutan," pungkas Ricky.