Pendidik sekaligus Chairman Ancora Group, Gita Wirjawan, mendorong para pelaku usaha di Indonesia untuk membangun cara berpikir jangka panjang dalam menjalankan bisnis.

Menurut Gita, orientasi jangka panjang penting agar pengusaha tidak hanya mampu menjaga keberlangsungan bisnis, tetapi juga menyelaraskan kepentingan seluruh pemangku kepentingan yang terlibat.

Gita menilai, pelaku usaha kecil sekalipun perlu mulai membangun visi yang lebih jauh ke depan.

Hal ini mencakup upaya menyelaraskan pemikiran antara pelaku usaha dengan nasabah, pemasok, vendor, maupun mitra bisnis lainnya.

“Ada pertanyaan ke saya, kalau saya sebagai pengusaha kecil, saya kan berpikir bagaimana untuk saya lebih bisa berpikir jangka panjang dan bagaimana agar seluruh pemangku kepentingan saya, termasuk nasabah saya, supplier saya, vendor saya, itu juga lebih selaras pemikirannya dengan saya,” tutur Gita, dikutip dari laman Instagram pribadinya @gwirjawan, Rabu (19/8/2026).

Menurut Menteri Perdagangan RI yang menjabat dari tanggal 19 Oktober 2011 hingga 31 Januari 2014 era Presiden SBY itu, keselarasan tersebut penting agar berbagai keputusan bisnis yang diambil dalam jangka pendek maupun menengah tetap memiliki arah yang sama dengan visi jangka panjang perusahaan.

Dengan demikian, langkah-langkah yang dilakukan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi bagian dari narasi besar yang ingin dibangun oleh perusahaan.

“Supaya apa pun yang kita lakukan dalam jangka pendek, menengah, dan jangka panjang, syukur-syukur nyambung dengan narasi jangka panjang,” lanjutnya.

Baca Juga: Gita Wirjawan: Hoki Bukan Sekadar Keberuntungan

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal periede 2009-2012 itu juga melihat, Indonesia saat ini berada dalam posisi yang sangat potensial untuk menarik modal dari berbagai sumber.

Menurut Gita, peluang tersebut semakin terbuka karena Indonesia dan kawasan Asia Tenggara berada di tengah dinamika pergerakan modal global, baik dalam bentuk teknologi maupun investasi.

“Kita ini sangat dalam posisi yang luar biasa bagus untuk menarik modal. Modal teknologi dari Tiongkok dan modal ekonomi dari Barat,” kata Gita.

Lebih lanjut, Gita pun menilai, kondisi tersebut seharusnya tidak hanya dilihat sebagai peluang ekonomi jangka pendek.

Lebih dari itu, kata dia, kemampuan membaca dan memanfaatkan pergeseran arus modal global perlu menjadi pengetahuan yang semakin banyak dipahami oleh masyarakat, khususnya para pelaku usaha.

Karena itu, Gita menekankan pentingnya memperluas pemahaman mengenai strategi jangka panjang tersebut di Indonesia maupun Asia Tenggara.

Menurutnya, pengetahuan tersebut dapat menjadi bekal penting bagi pelaku usaha untuk menghadapi perubahan ekonomi global sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul.

“Tapi kalau menurut saya, ini justru satu hal yang perlu diajarkan sebanyak mungkin di Indonesia atau di Asia Tenggara,” tandasnya.

Baca Juga: Belajar dari Singapura, Gita Wirjawan Harap Indonesia Kedepankan Budaya Prinsip