Lebih jauh, Donald mencontohkan, masyarakat yang sebelumnya menghadapi pemimpin dengan gaya otoriter bisa saja kemudian menginginkan sosok yang lebih keibuan dan penuh pendekatan emosional.
Namun, ketika gaya tersebut juga memperlihatkan kelemahan tertentu, masyarakat kembali mencari figur dengan karakter yang lebih kuat dan tegas.
“Pemimpin yang keibuan, misalnya. Nah, nanti kemudian pada saat mereka mengalami pemimpin yang keibuan, ada hal-hal yang negatif, mereka akan mencari pemimpin yang lebih strong, yang mungkin sangat tegas. Akhirnya kita dapat yang otoriter,” kata Donald.
Menurut Donald, pola tersebut menunjukkan bahwa perjalanan sejarah sering kali diwarnai pergantian karakter yang berlawanan. Masyarakat maupun generasi baru belajar dari pengalaman generasi sebelumnya, kemudian membentuk preferensi dan nilai yang berbeda.
“Jadi sejarah itu kan seperti itu ya, pergantian antara berbagai hal yang kemudian ekstrem ini yang kemudian mewarnai,” ujarnya.
Pola serupa, lanjut Donald, sangat mungkin terjadi dalam hubungan antargenerasi. Generasi X, Generasi Z, hingga generasi yang lahir setelahnya dapat memiliki respons yang berbeda terhadap nilai-nilai dan pola yang mereka warisi dari generasi sebelumnya.
“Generasi X dan juga mungkin Generasi Z pasti ada dinamika yang seperti itu, bisa terjadi sehingga kita bisa memahami apa yang mungkin terjadi dengan generasi berikutnya nanti,” jelasnya.
Ia bahkan memperkirakan Generasi Alpha dapat membawa respons baru terhadap persoalan yang sebelumnya muncul pada Generasi X maupun baby boomers.
Artinya, karakter suatu generasi tidak berdiri sendiri, melainkan terus terbentuk melalui proses belajar, kritik, dan respons terhadap pengalaman generasi sebelumnya.
“Setelah Generasi Z, Generasi Alpha bisa jadi mempelajari kesalahan yang dilakukan di generasi baby boomers atau Generasi X,” pungkas Donald.
Baca Juga: Belajar dari Kesuksesan Amazon, Guru Besar SBM ITB Ungkap Kunci Transformasi Bisnis yang Tepat